Inilah 12 Daya Tarik Gunung Tanggamus, Nomor 5 Bikin Paras Kota Agung Kian Menawan
Punya sederet daya tarik yang berbeda, tak bisa dipungkiri membuat Gunung Tanggamus semakin diminati para pemburu atap-atap bumi alias pendaki gunung dari dalam dan luar negeri. Apa saja seabrek daya tariknya?
Berdasarkan amatan langsung TravelPlus Indonesia usai dua kali mendaki gunung yang terletak di Kabupaten Tanggamus, Lampung ini pada 1995 bersama 3 rekan sekampus dan pendakian 2026 bersinergi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Tanggamus yang kini dikepalai Marhasan Samba, sekurangnya ada 12 daya tariknya yang terbagi atas daya tarik non pendakian dan pendakian.
Daya tarik non pendakian artinya daya pikat atau pesona Gunung Tanggamus diluar wisata pendakian antara lain yang pertama, nama Gunung Tanggamus terpilih menjadi nama Kabupaten Tanggamus yang terbentuk tanggal 21 Maret 1997 berdasarkan Undang-undang Nomor 2 tahun 1997.
Dikutip dari laman resmi pemerintahannya, nama Tanggamus sendiri diambil dari. Gunung tersebut terletak tepat di jantung kabupaten yang berjuluk “Bumi Begawi Jejama” itu. Oleh sebab itu, para perancang dan tokoh kabupaten tersebut menamainya dengan Tanggamus. Selain sebagai simbol keberadaan Gunung Tanggamus, nama Tanggamus juga dipercaya akan memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya.
Artinya nama Gunung Tanggamus begitu spesial hingga akhirnya dijadikan sebagai nama kabupaten yang semula masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan ini. Jadi selama nama kabupaten ber-Ibu Kota Kota Agung ini tidak berubah, selama itu pula nama gunung ini melekat erat, selaras dengan nama kabupaten tempatnya berdiri dengah gagahnya.
Versi lain menyebut nama "Tanggamus" diyakini berasal dari bahasa Lampung, yaitu “Tanga” yang berarti tinggi dan “Gamus” yang bermakna awan atau kabut. Dan bila dipadukan punya arti "gunung tinggi yang kerap berselimut kabut", terutama pada pagi dan sore hari.
Selain itu ada pula yang menulis nama Tanggamus merujuk pada sosok legendaris perempuan yang dipercaya sebagai roh penunggu sekaligus penjaga gunung tersebut. Tokoh dalam cerita rakyat setempat ini berperan besar dalam menjaga keseimbangan alam dan memberi perlindungan bagi masyarakat di sekitarnya.
Ada juga yang bilang Tanggamus itu kependekan dari "Tangga Menuju Surga" dan "Tangga Musyawarah" atau menjadi tempat orang-orang tempo doeloe untuk mengambil kesepakatan bersama atas persoalan yang terjadi di sekitarnya ketika itu.
Apapun ragam pendapat itu, satu yang pasti Gunung Tanggamus sudah menjadi ikon yang melekat kuat pada identitas Kabupaten Tanggamus karena namanya diabadikan menjadi nama kabupaten, dan gambarnya bahkan tercantum dalam logo resmi pemerintah daerah.
TravelPlus Indonesia yakin, seiring dengan semakin dikenalnya Gunung Tanggamus lewat berbagai tulisan, foto, konten video dan lainnya, suatu saat nanti kalau ada yang menyebut nama Kabupaten Tanggamus, baik itu orang-orang yang lahir dan tinggal di Kabupaten Tanggamus, di kota/kabupaten lain se-Lampung maupun orang-orang di luar Lampung seperti di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya langsung menjawab "Gunung Tanggamus-lah yang teringat pertama kali di benak".
Seperti halnya kalau menyebut Kota Palembang, yang langsung terekam di otak lalu terucap di mulut adalah Pempek karena begitu kuat imej dan branding kulinernya tersebut.
Daya tarik yang kedua, keberadaannya menjadi inspirasi membuat kerajinan tangan khas Kabupaten Tanggamus yang bisa menjadi buah tangan bagi wisatawan usai berwisata di Kabupaten Tanggamus.
Contohnya saat ini sudah ada kerajinan tangan iko pujuk atau ikat kepala yang berbentuk segitiga atau kerucut yang melambangkan Gunung Tanggamus dengan tambahan ornamen motif belah ketupat khas Kabupaten Tanggamus.
Remi Fitri Maharani, owner sentra Tapis Ratu Intan di kediamannya di Kecamatan Puggung menjelaskan kepada TravelPlus Indonesia, iko pujuk dapat dipakai para pria untuk kegiatan-kegiatan adat yang tidak formal bahkan oleh traveler yang senang memakai ikat kepala. "Harganya Rp 50 ribu per satuan dan dapat dibeli langsung di sini di sentra Tapis Ratu Intan atau di outlet Dekranasda Kabupaten Tanggamus di Rest Area Gisting," jelasnya.
Tentu masih banyak lagi aneka karya seni yang mungkin bisa atau sudah pernah diciptakan selain dari kerajinan tangan yang terinspirasi dari Gunung Tanggamus, misalnya tarian baik itu tari tradisional maupun tari modern, nyanyian/lagu, film layar lebar, fesyen, nama kuliner, nama kedai kopi/restoran/hotel, dan lainnya.
Daya tarik ketiga, badan Gunung Tanggamus berdiri gagah mencakup tiga kecamatan yaitu Kota Agung, Gisting, dan Ulu Belu.
Menariknya lagi gunung ini bisa dilihat traveler dari kejauhan dari beberapa titik seperti dari Homestay Soeharto, dermaga Teluk Semaka, dan jalan raya di Kota Agung; Bukit Idaman di Kecamatan Gisting; dan di beberapa ruas jalan provinsi dari Kota Agung ke Gisting.
Selanjutnya atau daya tarik Gunung Tanggamus non pendakian yang keempat adalah termasuk gunung berapi namun tidak begitu aktif.
Bukti kalau Gunung Tanggamus itu gunung berapi, terdapat kawah aktif yang cukup luas, mengeluarkan air panas dan asap berbau belerang namun letaknya bukan di puncak gunung tapi masih di kaki gunung sebagaimana terlihat dalam konten video yang tayang di kanal YouTube berjudul "Penulusuran Kawah Tanggamus. Lampung".
Namun dalam narasi maupun deskripsi konten video di YouTube tersebut, tidak dijelaskan lokasi pekon dan kecamatan apa kawah tersebut berada.
Menurut Kepala Dinas Parekraf Kabupaten Tanggamus, Marhasan Samba kalau melihat dari konen video di YouTube itu merupakan hot spring yang ada di Pekon Pagar Alam, Kecamatan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, dekat kawasan geotermal.
Hal senada juga disampaikan Poklen ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Java Palisander (dulunya bernama Sonokeling) yang mengelola basecamp (BC) pendakian Gunung Tanggamus via Sidokaton.
Menurut sepengetahuan Poklen dari temannya, dulu ada aktivitas gunung api purba di Ulu Belu yang mengeluarkan air panas. "Untuk mencapai ke sana jarak tempuhnya dari Kecamatan Gisting sekitar sejam berkendara," terangnya.
Bukti lainnya, sewaktu TravelPlus Indonesia mendaki Gunung Tanggamus yang kedua kali, sempat mencium bau belerang yang terbawa angin. Entah bau belerang itu dari sumber air panas yang ada di Ulu Belu atau ada rongga-rongga kawah kecil di luar jalur pendakian yang tertutup semak belukar maupun kerimbunan hutan.
Daya tarik kelima non pendakian Gunung Tanggamus adalah keberadaannya juga tak bisa dipungkiri semakin memperindah wajah Kabupaten Tanggamus, di antaranya paras Kota Agung. Dari beberapa titik di Ibu Kota Kabupaten Tanggamus ini, panormanya menjadi lebih spesial lantaran berlatar Gunung Tanggamus.
Tak banyak kota maupun ibu kota sebuah kabupaten di Indonesia yang dianugerahi Sang Maha Pencipta, Allah SWT panorama kota berlatar gunung dan laut teluk nan menawan. Dan dari yang tak banyak itu, Kota Agung-lah di antaranya.
Bila dilihat dari sisi pariwisata, kondisi alam seperti itu merupakan nilai lebih (keistimewaan) tersendiri bagi Kabupaten Tanggamus, khususnya Kota Agung karena bisa menjadi daya tarik yang dapat menjaring wisatawan.
Sudah semestinya selalu mensyukuri anugerah tak terhingga itu dan tak kalah penting terus menerapkan/mengindahkan 7 unsur Sapta Pesona pariwisata yakni Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan diseluruh lapisan masyarakat dan disemua sektor yang ada di Kabupaten Tanggamus agar semakin indah dan tertata.
Ditambah dengan terus meningkatkan konsep 3A sebagai pilar utama pengembangan destinasi pariwisata yaitu Atraksi (Attraction) yang menarik dan berkualitas, Aksesibilitas (Accessibility) yang memadai, nyaman, dan tarifnya terjangkau serta Amenitas (Amenities) yang lengkap, dengan tetap mengangkat muatan budaya lokal/setempat.
Berikutnya atau daya tarik keenam dan seterusnya yang merupakan daya tarik Gunung Tanggamus dari sisi pendakian, yakni dengan keringgian 2.102 Mdpl (ada juga yang mencatat 2101 Mdpl), menjadikannya sebagai gunung tertinggi kedua di Provinsi Lampung setelah Gunung Pesagi.
Meskipun bukan atapnya Lampung (tertinggi se-Lampung) namun banyak pendaki yang menilai tingkat kesulitan atau grade lavel pendakian Gunung Tanggamus justru lebih sulit dibanding Gunung Pesagi.
TravelPlus Indonesia sendiri menilai kondisi jalur pendakian (japen) Gunung Tanggamus itu akan menjadi lebih berat bila mendakinya saat musim hujan atau dikala hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasinya lama meskipun dimusim panas ataupun musim pancaroba karena kondisi beberapa titik japennya akan berubah sangat licin dan becek.
Tingkat kesulitan japen itu memang boleh dibilang subyektif, bisa juga dipengaruhi oleh faktor pengalaman pendakian serta kondisi fisik dan mental masing-masing pendaki. Kendati begitu justru membuat banyak pendaki berjiwa petualang yang semakin tertantang untuk mendaki dan menggapai puncaknya.
Daya tarik ketujuh, Gunung Tanggamus salah satu gunung yang memiliki sedikit japen umum. Sampai saat ini japen umumnya yang tersohor dan menjadi pilihan banyak pendaki adalah BC pendakian Gunung Tanggamus via Pekon (Desa) Sidokaton, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus.
Di BC-nya tersedia loket registrasi/pendaftaran pendaki gunung, tempat rebahan pendaki, warung makan sederhana, kamar mandi, dan toilet serta lahan parkir motor yang dipasangi kamera CCTV. "Biaya jasa penitipan motor Rp 20 ribu per motor," ungkap Poklen.
Daya tarik kedelapan, BC pendakian Gunung Tanggamus terbilang mudah diakses dengan kendaraan pribadi maupun moda tranportasi umum dan lokal.
Pendaki dari kota/kabupaten yang ada di Lampung, umumnya menggunakan sepeda motor dari kediamannya ke BC Sidokaton. Ada pula yang menggunakan mobil pribadi bila datang dalam kelompok kecil (4-7) orang. Sedangkan pendaki dari luar Lampung, biasanya menggunakan moda tranportasi umum bus dari kota/kabupatennya yang melewati Kecamatan Gisting lalu turun di Rest Area Gisting kemudian lanjut naik ojek pangkalan ke BC Sidokaton.
Buat pendaki Jabodetabek yang ingin mendaki Gunung Tanggamus dengan moda transportasi umum, pilihannya bisa naik bus Raja Basa Utama (RBU) yang bercat biru dari Bekasi ataupun dari Terminal Kalideres, Jakarta lalu turunnya di Rest Area Gisting dengan ongkos sekitar Rp 260 ribu per orang (tidak perlu lagi beli tiket kapal feri).
"Dari rest area tersebut, traveler bisa naik ojek pangkalan ke BC Sidokaton sekitar Rp 10 ribu per orang. Pulangnya pun begitu," terang Poklen.
Daya tarik kesembilan, memilik tempat berkemah bernama Camping Ground Gunung Tanggamus yang dapat digunakan pendaki untuk mendirikan tenda atau nge-camp sebelum maupun sesudah menggapai puncak Gunung Tanggamus.
Menariknya nge-camp di camping ground satu ini juga gratis dengan catatan membawa perlengkapan berkemah/masak/mendaki sendiri atau bisa juga menyewanya di rental outdoor di daerah masing-masing karena di BC Sidokaton belum menyediakan rental outdoor untuk keperluan tersebut.
Keistimewaan camping ground Gunung Tanggamus ini, pendaki dimanjakan pemandangan matahari terbit (sunrise) yang menawan yang muncul dari parairan Teluk Semaka yang berada di pesisir Kota Agung.
Rumah Akar
Selanjutnya atau daya tarik Gunung Tanggamus yang kesepuluh, memiliki spot-spot alam yang menarik di beberapa titik di japennya antara lain sumber air yang mengalir, rumah akar, pos mushala, kayu akar viral, hutan lumut, tugu triangulasi (puncak) serta lautan awan dan pesona matahari terbenam (sunset) yang dapat dilihat dari puncaknya saat cuaca bersahabat (cerah).
Dari sederet spot-spot alam tersebut, rumah akar-lah yang menarik lebih perhatian TravelPlus Indonesia lantaran unik dan jumlahnya cukup banyak di beberapa titik.
Rumah akar yang TarvelPlus Indonesia maksud itu adalah pohon besar yang bagian akar-akarnya membentuk sarang dengan ruangan seperti kamar rumah untuk tempat berteduh.
Awalnya Travelplus Indonesia mengira rumah akar itu menjadi tempat tinggal atau berteduh sejumlah hewan liar seperti babi hutan, ular piton dan atau lainnya. Tapi setelah diamati/diperiksa tidak ada sama sekali satwa liar di dalamnya.
Menurut salah seorang pendaki yang bertemu dengan TravelPlus Indonesia saat pendakian Gunung Tanggamus 2026, mengatakan dia pernah suatu ketika bermalam di salah satu rumah akar tersebut.
Nah, buat pendaki lainnya, TravelPlus Indonesia imbau supaya tidak melakukan itu guna menjaga keberadaan dan kelestarian rumah-rumah akar tersebut. Mungkin kalau sekadar berteduh saat hujan atau sekadar istirahat sejenak sewaktu nanjak ataupun turun, boleh-boleh saja namun harus tetap menjaga kebersihan dan keasriannya.
Daya tarik kesebelas, puncak Gunung Tanggamus dapat dicapai pendaki dengan dua cara pendakian yakni pendakian nge-camp dan tektok tanpa membayar registrasi alias gratis. Cukup mencatat data pribadi masing-masing pendaki dan pendakian yang dilakukan nge-camp atau tektok.
Kalau pendakian nge-camp bisa pilih berdurasi 2 hari 1 malam, bermalamnya satu malam di camping ground sebelum atau sesudah ke puncak. Sedangkan yang berdurasi 3 hari 2 malam, nge-campnya juga di camping ground satu malam sebelum ke puncak dan satu malam lagi sesudah turun dari puncak.
Pilihan pendakian nge-camp yang kedua itu yang paling santai dan jauh lebih memuaskan karena bisa eksplorasi lebih lama di spot-spot alam yang ada di sepanjang japen sampai puncak.
Khusus pendakian tektok atau one day hiking (ONH) tanpa menginap, berangkat sebelum subuh dari BC dengan ojek gunung ke Pos Mata Air (sebelum camping ground) dengan onkos Rp 75 ribu per orang sekali jalan jika berangkat/antarnya malam dan atau jelang subuh. Kalau pagi sampai sore hari, tarif ojek gunungya Rp 50 ribu per orang sekali jalan).
Selanjutnya treking sampai puncak paling lambat jam 12 siang kemudian turun sekitar jam 1 siang dan tiba di Pos Mata Air sore, kemudian turun ke BC dengan ojek gunung dan tiba di BC paling lambat magrib.
Sebaiknya bila memilih tektok, kondisi fisik dan mental benar-benar dipersiapkan dengan matang karena sangat menguras stamina terlebih bila diguyur hujan panjang. Kalau ingin lebih santai dan puas, untuk pendakian yang pertama kali, sebaiknya dilakukan secara nge-camp, 1 ataupun 2 malam.
Bila menggunakan jasa pemandu gunung, biayanya Rp 500 ribu per hari. Begitupun kalau memakai jasa porter, tarifnya sama Rp 500 ribu per hari sesuai informasi yang TravelPlus Indonesia peroleh dari BC Sidokaton.
Menurut Poklen, tugas porter pendakian Gunung Tanggamus hanya membawa barang, tidak bongkar/pasang tenda dan tidak pula memasak. "Tapi jumlah porter disini jarang (terbatas) karena medannya cukup curam. Rata rata para pendaki hanya menggunakan jasa pemandu," terangnya.
Terakhir atau daya tarik Gunung Tanggamus yang keduabelas, selain pendakian banyak aktivitas menarik dan bermanfaat yang dapat dilakukan pendaki di Gunung Tanggamus.
Aktivitas menarik lainnya antara lain berkemah di camping ground seraya mengabadikan sunrise ke arah Teluk Semaka; mengamati aneka flora seperti tanaman kantong semar, rumah akar, dan hutan lumut; melakukan pengamatan aneka burung atau bird watching antara lain di sekitar Pos Lima; memotret dan atau membuat video untuk konten medsos; dan pulangnya bisa ber-agro wisata dengan membeli buah alpukat yang memang banyak tumbuh di Pekon Sidokaton dan pekon-pekon sekitarnya.
Bisa juga melakukan pendakian bernilai lebih seperti sekaligus aksi sapu bersih atau memungut sampah pendaki abal-abal yang membuang/meninggalkan sampahnya seenaknya di sekitar puncak dan sepanjang japen, lalu membawa turun hingga BC dan atau melakukan aksi tanam pohon di lahan-lahan tertentu agar suasananya semakin rindang.
Melihat sederet daya tarik Gunung Tanggamus tersebut, rasanya pantas kalau gunung satu ini beberapa tahun belakangan, semakin ramai peminatnya dan boleh dibilang sudah menjadi lokasi objek wisata minat khusus pilihan pendaki muda-mudi Lampung terutama setiap akhir pekan, long weekend, libur akhir tahun, libur sekolah/kuliah, libur hari-hari spesial seperti 17 Agustus-an, dan lainnya.
Faktanya berdasarkan data jumlah pendaki Gunung Tanggamus yang tercatat oleh pengurus Pokdarwis Java Palisander di BC via Pekon Sidokaton, sepanjang tahun lalu 2025 mencapai 6.667 orang dan segelintir di antaranya merupakan pendaki asing.
Data yang menggembirakan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Gunung Tanggamus saat ini sudah termasuk gunung populer se-Lampung yang semakin dilirik pendaki luar Lampung bahkan mancanegara.
Nah, buat travelers di Jabodetabek dan dimanapun yang ingin menikmati sederet daya tarik Gunung Tanggamus di atas dengan melakukan pendakian, di ujung tulisan ini TravelPlus Indonesia kembali mengimbau untuk senantiasa melakukan pendakian yang ramah lingkungan atau pro konservasi yakni minimal membawa turun sampah logistik sendiri ke BC, tidak melakukan aksi vandalisme termasuk menebang/menguliti batang pohon, dan tidak mencemarkan sumber air yang ada.
Enjoy hiking Mount Tanggamus 💪.
Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Captions:
1. Pemandangan Kota Agung. Ibu Kota Kabupaten Tanggamus yang tambah menawan karena berlatar Gunung Tanggamus.
2. Badan Gunung Tanggamus mencakup Kecamatan Kota Agung. Gisting, dan Ulubelu.
3. Iko pujuk atau ikat kepala berbentuk segitiga kerucut yang melambangkan Gunung Tanggamus ditambah ornamen motif belah ketupat khas Kabupaten Tanggamus.
4. Gunung Tanggamus merupakan gunung berapi namun tidak begitu aktif.
5. Panorama Dermaga Kota Agung di Teluk Semaka yang berlatar Gunung Tanggamus.
6. Triangulasi puncak Gunung Tanggamus yang berketinggian 2.102 Mdpl.
7. Sejumlah pendaki dan pengurus Pokdarwis Java Palisander berfoto bersama Kepala Dinas Parekraf Kabupaten Tanggamus, Marhasan Samba (berjaket kulit coklat) di BC via Pekon Sidokaton, Kec. Gisting.
8. Suasana camping ground Gunung Tanggamus, tempat para pendaki mendirikan tenda saat melakukan pendakian secara nge-camp.
9. Rumah akar, spot alam yang menarik perhatian lebih di beberapa titik di jalur pendakian Gunung Tanggamus.
10. Pendaki melewati trek awal hutan lumut yang juga menjadi spot alam menarik khas Gunung Tanggamus.
11. Kepala Dinas Parekraf Kabupaten Tanggamus, Marhasan Samba (berjaket kulit coklat) saat memantau suasana BC pendakian Gunung Tanggamus via Sidokaton.
12. TravelPlus Indonesia (berikat kepala biru) yang sudah berusia separuh abad lebih dan mendaki Gunung Tanggamus untuk kedua kali, berfoto bareng pendaki muda-mudi Lampung di puncak Gunung Tanggamus saat didera hujan. (foto: dok./#rekanpendaki)













0 komentar:
Posting Komentar