Guna Perkuat Destinasi Wisata Berkelas Dunia, Maluku Gelar Seminar Nasional Pariwisata
Punya kekayaan alam luar biasa indah dan ragam budaya unik, Maluku dinilai layak menjadi destinasi kelas dunia.
Guna mewujudkannya, Forum Kajian Pemuda Lintas Daerah (Forkapelinda) Maluku menggelar Seminar Nasional bertajuk 'Strategi dan Kolaborasi dalam Mewujudkan Pariwisata Maluku Berkelas Dunia', di Hotel Manise, Ambon, Sabtu, 15 Februari 2020.
Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf Wawan Gunawan yang menjadi narasumber (narsum) menilai Seminar Nasional ini sangat positif.
Ini memperlihatkan kepedulian seluruh stakeholder agar pariwisata maluku dapat membawa hal positif kepada masyarakat.
Terlebih, Seminar Nasional ini diselenggarakan untuk membentuk kolaborasi antara pusat dan daerah demi mengembangkan pariwisata Maluku.
"Ini kegiatan yang bagus. Karena, setiap pihak bersinergi untuk membangun pariwisata. Hal ini bisa mewujudkan pariwisata sebagai sarana meningkatkan ekonomi. Orang datang ke suatu daerah karena ada hal yang menarik, dalam pariwisata, segala aspek bisa dijadikan atraksi. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana pengembangan 3A-nya, yaitu Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas," tuturnya.
Untuk Atraksi, Wawan menilai potensi pariwisata di Maluku tidak perlu diragukan.
Begitu juga dengan Amenitas yang sudah baik. Sebab, Maluku punya banyak hotel atau resort berbintang. Sedangkan untuk Aksesibilitas, sarana dibangun untuk menunjang atraksi pariwisata, untuk memudahkan wisatawan untuk menjangkau lokasi tersebut.
Kemenparekraf/Dinas Pariwisata dapat berkoordinasi dengan PUPR atau Kemenhub.
"Yang harus diingat, majunya pariwisata daerah juga ditentukan oleh CEO Commitment. Presiden sudah menetapkan pariwisata sebagai leading sector, tinggal daerah menjemput bola. Diperlukan sinergitas pentahelix, seluruh unsur bergerak untuk memajukan pariwisata demi meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Pada dasarnya, seni, budaya, dan pariwisata, semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan masyarakat, tinggal bagaimana pemerintah bersama masyarakat menjemput bola," kata Wawan.
Ditambahkannya, pada era saat ini, penerapan pariwisata berbasis digital sangat penting, karena wisatawan sudah melek teknologi.
Digitalisasi memberikan kemudahan bagi wisatawan yang akan mengunjungi suatu destinasi. Selain itu, wisatawan dapat mencari tahu dengan sangat mudah segala keperluan yang dibutuhkan saat berwisata, mulai dari tiket hingga kendaraan, bahkan mencari lounge/pelayanan bandara.
"Penggerakan ekonomi kreatif sekarang menjadi core pengembangan pariwisata, terutama untuk pemberdayaan masyarakat. Karena, melalui pengembangan ekonomi kreatif, masyarakat diharapkan merasakan dampak langsung dari pariwisata. Ekonomi kreatif memiliki 16 subsektor, diantaranya melalui potensi kuliner, fashion, seni pertunjukan, kriya, film, musik dsb. Di Maluku untuk mengembangkan ekonomi kreatif bisa dilakukan dari berbagai sektor, karena potensi kuliner, seni pertunjukan sangat potensial untuk dikembangkan," urai Wawan.
Apalagi, Banda pernah dijadikan Film Dokumenter dan Ambon dinobatkan sebagai Kota Musik Dunia oleh Unesco. Ini menjadi nilai tambah untuk pengembangan pariwisata Maluku.
Sementara Anggota DPD RI Hj. Anna Latuconsina yang juga menjadi narsum dalam Seminar Nasional ini, mengatakan Maluku merupakan wilayah kepulauan. Sehingga tata ruang di Provinsi Maluku sangat diperlukan juga perlu satu konsep keterpaduan antar pulau di Maluku dan antar-provinsi/kabupaten terdekat dari Maluku; mulai dari fisik hingga SDM yang mumpuni.
"Namun banyak daerah yang berpotensi sebagai obyek wisata tetapi minim infrastruktur, seperti Daerah di Kabupaten Seram Timur seperti di Manawoka. Potensinya luar biasa, dan thn 1988 pernah didatangi oleh Mick Jagger musisi terkenal dunia. Maluku juga bisa membuat paket wisata sejarah yang menceriterakan tentang jalur rempah, dan juga banyak benteng-benteng zaman kolonial yang bisa ditata sebagai penunjang wisata sejarah tersebut, karena memang potensi Maluku sangat besar untuk hal itu, karena indonesia dijajah karena rempah-rempah yg ada di Maluku," terangnya.
Anna Latuconsina juga membahas potensi beberapa kabupaten di Maluku. Seperti Kabupaten Maluku Tengah di Banda Neira yang menurutnya mungkin perlu subsidi dan campur tangan dari pemerintah pusat, terutama bidang perhubungan, setelah penerbangan perintis di-stop. Mengingat Banda Neira merupakan destinasi unggulan Maluku, tetapi transportasinya sulit .
"Wisata bahari sangat potensial dikembangkan, dunia bawah laut Maluku memiliki keindahan luar biasa. Bahkan turis asing banyak datang untuk diving di Maluku. Untuk fishing group dari luar negeri memerlukan informasi tentang musim ikan dengan area-areanya agar diberikan agenda terkait musim ikan untuk wisatawan yang punya hobby fishing. Seram Barat potensi ikannya juga sangat besar dan pulau-pulaunya juga menarik, begitu juga Kei dan Tanimbar. Lalu, apakah bisa di bangun di Saumlaki untuk marina bertaraf internasional untuk yacht dari Darwin, Australia, bisa bersandar disana? Permasalahan lainnya adalah belum ada sekolah tinggi pariwisata di Maluku," bebernya.
Narsum ketiga, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Maluku Marcus J. Patinama mengatakan salah satu hal yang penting dalam pariwisata adalah hospitality.
"Kemampuan berkomunikasi harus baik. Selain itu, kita juga bisa mengembangkan agrowisata di pesantren, termasuk wisata religi juga dapat dikembangkan disini.
Beberapa hal lain yang harus kita lakukan adalah penataan toilet bagi homestay, juga penataan pantai, agar tertib terutama UMKM disepanjang pantai," ujarnya.
Seminar Nasional ini diikuti 200 peserta, terdiri atas kalangan mahasiswa, LSM, dan OPD terkait.
Keynote speech-nya oleh Gubernur Maluku yang dalam hal ini diwakili oleh Marcus J. Pattinama.
Seminar Nasional ini juga dihadiri Bupati Kabupaten Buru Ramli Ibrahim Umasugi, Wakil Bupati Maluku Tenggara Petrus Beruatwarin, Bappeda Provinsi Maluku Jalaludin Salampesy, Ketua PHRl Provinsi Maluku, Akademisi dari Universitas Unpati, serta Kabid Regional III Direktorat Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf.
Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Captions:
1. Ora Beach Resort di Negeri Saleman, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. (foto: dok.ora beach resort) 2. Wawan Gunawan selaku Direktur Pengembangan Destinasi Regional II, Badan Parisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf), Kemenparekraf saat menyampain paparan di Seminar Nasional ini.
3. Tiga narsum Seminar Nasional yang mendapat sertifikat yakni Wawan Gunawan (kiri memakai kemeja batik coklat); Hj. Ana Latuconsina Anggota DPD RI Dapil Maluku (tengah, berhijab); dan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Maluku Marcus J. Patinama (kanan baju putih bertopi koboi). (foto: dok.kemenparekraf)
3. Seminar Nasional ini diikuti 200 peserta.
4. Pesona alam kelas dunia yang ditawarkan di Ora Beach Resort.
5. Para narsum dan panitia Seminar Nasional.
6. Hotel Manise, Ambon venue Seminar Nasional bertajuk 'Strategi dan Kolaborasi dalam Mewujudkan Pariwisata Maluku Berkelas Dunia'.
0 komentar:
Posting Komentar