Senin, 20 Mei 2019

Masjid Haji Keuchik Leumiek Menambah Pesona Halal Aceh, Ini Kiat Mengabadikannya

Pesona destinasi halal Aceh, khususnya di Banda Aceh yang berjuluk Kota Serambi Mekkah kini bertambah. Bukan karena ada hotel, restoran ataupun kedai kupi kekinian, melainkan masjid baru bernama Masjid Haji Keuchik Leumiek.

Kenapa TravelPlus Indonesia sampai mengatakan pesona halalnya bertambah?

Soalnya, sebelumnya Aceh pernah memenangkan Penghargaan Wisata Halal Dunia 2016 atau World Halal Tourism Awards (WHTA) 2016 untuk dua kategori yakni Aceh sebagai World’s Best Halal Cultural Destination dan Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar sebagai World’s Best Airport for Halal Travellers.

Dan tahun ini, dalam program Indonesia Muslim Travel Index (IMTI), Aceh berhasil meraih peringkat kedua sebagai destinasi wisata halal unggulan Indonesia tahun 2019 dari 10 provinsi di Indonesia dengan skor 66. Jumlah tersebut melonjak 9 angka dibandingkan 2018.

Aceh berhasil menduduki peringkat kedua berdasarkan penilaian aksesibilitas, komunikasi, lingkungan, dan pelayanan.

Data dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Aceh punya 4 tipe brosur dan 10 event halal untuk market outreach-nya, lalu stakeholder education-nya ada 16 even, ber-digital marketing, didukung satu bandara internasional, dan 12 bandara domestik, ada 125 rute bus antar kota serta 1.069.032 kilometer area jalan.

Lalu kenapa pula masjid bisa menambah pesona halal Aceh? Karena keberadaan masjid di semua di destinasi halal itu amat penting, apalagi itu di public area dan fasilitas umum seperti bandara, pelabuhan, stasiun, terminal, dan tentunya objek wisata.

Terlebih lagi kalau masjid itu punya daya pikat tersendiri, entah itu dari sisi arsitekturnya, sejarahnya, kejadian/peristiwa yang menimpanya, dan lainnya.

Dan tak bisa dipungkiri juga salah satu magnet atau daya tarik wisata halal Aceh adalah karena keberadaan masjid-masjidnya.

Aceh sudah punya aset religi teramat penting berupa masjid-masjid fenomenal yang mendapat julukan sebagai masjid-masjid perkasa dan kebal tsunami 2004 silam, antara lain Masjid Baiturrahim di pinggir Pantai Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh; Masjid Rahmatullah atau Masjid Lampuuk di Desa Lampuuk, Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar; Masjid Raya Teuku Cik Maharaja di Peukan Bada; Masjid dekat obyek wisata spritual Kuburan Syiah Kuala; Masjid di Ujung Karang, Melauboh; dan masjid-masjid ajaib lainnya.

Belum lagi sejumlah masjid kuno dan kental nilai sejarahnya antara lain Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, Masjid Tuha Indrapuri (Aceh Besar), Masjid Tuha Manjing (Aceh Barat), Masjid Jamik Baiturrahman (Sabang), Masjid Tua Teungku Chik Dipasie atau Masjid Guci Rumpong (Pidie), Masjid Tua Kabayakan (Aceh Tengah), Masjid Asal Penampaan (Gayo Lues), Masjid Al-Furqon di Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, dan masih banyak lagi.

Bagaimana dengan daya pikat Masjid Haji Keuchik Leumiek yang diresmikan oleh Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah didampingi Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haytar, dan Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman di Gampong Lamseupeung, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Senin, 28 Januari 2019 lalu?

Sebagai tempat beribadah umat Muslim, masjid berukuran 34x22 meter persegi itu kini menjadi magnet baru bagi masyarakat Banda Aceh khususnya, termasuk wisatawan dari luar Banda Aceh bahkan luar Aceh.

Masjid yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada 19 Juli 2016 ini dibangun di atas lahan seluas 2.500 meter persegi di Kompleks Balai Pengajian Haji Keuchik Leumiek.

Secara arsitektur, masjid  yang mulai dibangun sejak tahun 2016 dan mampu menampung hingga seribu jamaah ini, bergaya Timur Tengah dengan beberapa bagiannya menyerupai Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi.

Sejumlah pohon kurma di halaman masjid, mempertebal kesan citra Timur Tengah itu.

Sementara keberadaan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh) di depannya memperkuat nuansa budaya Aceh-nya.

Masjid dengan sebuah kubah besar yang diapit 4 kubah lain berukuran kecil serta 1 menara menjulang tinggi ini juga tampil mewah.

Warna kuning emasnya di bagian dinding depan dan lampu gantung berdiameter 3 meter yang menggantung di bagian dalam kubah, menambah kesan mewah itu.

Pada malam hari, masjid ini nampak lebih berwarna dengan kilauan lampu di bagian menara dan kubahnya.

Apalagi jika dilihat dari seberang bantaran Krueng (sungai) Aceh, akan nampak repleksi masjid di dalam air sungai itu yang membuatnya semakin menawan.

Melihat keistimewaan masjid yang dibangun oleh Haji Harun Keuchik Leumiek, salah satu tokoh Aceh sekaligus pengusaha di bidang logam mulia yang juga wartawan senior dan kolektor benda bersejarah ini, membuat Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dalam sambutannya saat meresmikan masjid tersebut mengimbau kepada semua pihak untuk memakmurkan dan memberdayakan masjid ini dan masjid-masjid lainnya secara terus-menerus supaya benar-benar menjadi institusi untuk meningkatkan pelaksanaan Syariat Islam secara kaffah di Aceh, yang tidak hanya di kulit, tapi jauh menjangkau ke dalam.

Sementara itu, Haji Harun Keuchik Leumiek, juga dalam sambutannya ketik itu menjelaskan sebenarnya luas masjid ini 3.500 meter, namun seribu meter lainnya digunakan untuk pembangunan balai dan tempat penampungan anak-anak korban tsunami.

Terus apa saja tips buat wisatawan yang ingin mengabadikan/memotret Masjid Haji Keuchik Leumiek yang telah menyita perhatian warga Banda Aceh sejak beberapa bulan belakangan ini?

Seorang fotografer Aceh bernama Hafas Azhar yang sudah beberapa kali memotret sekalian Shalat Tarawih 23 rakaat di masjid tersebut, memberikan kiatnya kepada TravelPlus Indonesia baru-baru ini.

Menurut pemilik akun Instagram (IG) @hafas_azhar ini, waktu terbaik untuk mengabadikan Masjid Haji Keuchik Leumiek pada pagi dan sore/malam hari.

"Kalau pagi sekitar pukul 8 atau 9 karena cuacanya masih belum terlalu panas. Kalau malam sebelum dan sesudah Maghrib," imbaunya.

Kata Hafas, kalau pagi warna masjid itu nampak kuning langsat sedangkan malam hari menjadi kuning keemasan karena efek cahaya. "Kayaknya masjidnya ga berlapis emas," ungkapnya.

Satu lagi, sambung Hafas, kalau ingin foto rame-rame dengan teman-teman seperjalanan berlatar belakang (background) masjid itu, bagusnya menggunakan tripod.

TravelPlus Indonesia menambahkan, kalau ingin mendapatkan gambar Masjid Haji Keuchik Leumiek yang variatif sebagaimana foto-foto bidikan Hafas, sebaiknya ambil angle atau sudut pengambilan serta objek latar depan yang berbeda, bisa itu foreground-nya Krueng Aceh, Rumoh Aceh, Pohon Kurma, dan lainnya serta dengan waktu pemotretan yang berbeda pula.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok.@hafas_azhar

Captions:
1. Masjid Haji Keuchik Leumiek berlatar depan Rumoh Aceh pada pagi hari.
2. Masjid Haji Keuchik Leumiek berlatar depan Rumoh Aceh pada malam hari.
3. Tim BPNB Aceh usai shalat di Masjid Haji Keuchik Leumiek. (dok. bpnb aceh)
4. Interior Masjid Haji Keuchik Leumiek dengan lampu gantungnya nan mewah.
5. Masjid Haji Keuchik Leumiek berlatar depan Krueng (sungai) Aceh pada malam hari.
6. Mihrab Masjid Haji Keuchik Leumiek.
7. Masjid Haji Keuchik Leumiek berlatar depan Krueng (sungai) Aceh pada pagi hari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.