Rabu, 24 April 2024

Catatan Pendakian 8 Santri Tektokan ke Phutuk Gragal


"Pendakian ini bertujuan bukan semata sampai di puncak pun untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta serta mensyukuri atas segala nikmat-Nya".

Sebelum aktif kembali belajar, delapan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Murottilil Qur'an, Kediri, Jawa Timur (Jatim) memutuskan nanjak bareng (nanbar) dengan cara tektokan ke puncak Gunung Puthuk Gragal, Mojokerto.

Kedelapan santri itu Hadi, Tsabit, Kafin, Kadafi, Syafi'i, Afnan, Reza, dan Ashim berhasil menggapai puncak berketinggian  1480 meter diatas permukaan laut (Mdpl) tersebut.


Dari Ponpes mereka menggunakan 4 sepeda motor menuju basecamp (BC) pendakian Gunung Phutuk Gragal sekaligus pos registrasi yang berada di Dusun Libis, Desa Cembor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jatim. Di BC, mereka membayar biaya registrasi Rp 15.000 per orang.

Hadi, salah satu santri yang pernah nanbar dengan TravelPlus Indonesia ke puncak Gunung Prau via Igirmranak, Kabupaten Wonosobo, seminggu sebelum Ramadan 2024, menceritakan pengalamannya tektokan bersama teman-teman sepondokan ke Phutuk Gragal.

Mereka berangkat dari BC, Selasa (23/4/24) dini hari, sekitar pukul 03.00 menuju Pos 1 Watu Ceper dengan membawa serta beberapa logistik seperti mi instan, bermacam makanan dan minuman, kopi sachet-an, dan nasi bungkus.


Saat di perjalanan, Hadi merasa mentalnya  benar-benar diuji lantaran harus jadi leader alias memimpin perjalanan tim, berada paling  paling depan. "Padahal pengalaman saya naik gunung baru dua kali. Tapi Alhamdulilah, kami sampai di Pos 1 hampir pukul 4," terangnya.

Menurut anak muda yang usianya belum genap 20 tahun ini, sebenarnya jarak antara BC ke Pos 1 Watu Ceper terbilang dekat. Namun karena kondisi stamina beberapa anggota timnya kurang fit, membuat perjalanan mereka agak lamban. "Apalagi kami sering berhenti dan istirahat sejenak," ungkapnya.

Meskipun nanbar 8 orang namun rasa takut itu tetap ada apalagi dini hari masih gelap gulita. "Untuk menghilangkan rasa itu, kami sesekali mengeluarkan lawakan supaya suasananya tidak terlalu menegangkan," ujarnya.


Kata Hadi, hampir di sepanjang jalan dari BC ke Pos 1 bersampingan dengan saluran sumber air. "Suaranya agak bergemuruh sampai ke telinga, membuahkan sensasi lain," ungkapnya lagi.

Secara umum, lanjut Hadi, kondisi  jalur pendakian (japen) dari BC ke Pos 1 lumayan bersahabat bagi para pemula sepertinya.  Namun dalam perjalanan menuju Pos 2 Bukit Gamblu, trek pendakiannya lumayan menguji fisik.

"Kami melewati tanjakan yang curam, licin dan pastinya agak mengerikan. Namanya Tanjakan Opo," jelasnya.


Saat melewati tanjakan tersebut, Hadi mengaku stamina mereka lumayan terkuras dan sempat beberapa kali istirahat sambil minum air. "Alhamdulillah, pukul 4 lewat 11 menit kami sampai di Pos 2," ungkapnya.

Usai beberapa menit istirahat, Hadi dan kawan-kawannya melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 Hutan Genjret yang kondisi treknya variatif, terbilang bersahabat namun ada juga sedikit trek yang seperti di trek Pos 2.

"Kami sampai di Pos 3 pukul 04.55 lalu istirahat sejenak kemudian bergerak lagi menuju Pos 4 Tanjakan Celeng," terangnya.


Menurut Hadi kondisi trek ke Pos 4 lumayan sulit seperti pas di Pos 1. "Kami sampai di Pos 4 pukul 05.35," terangnya.

Pos 4 ini adalah camp area. "Kami istirahat lumayan lama dan sempat makan bersama diselingi canda ria," ujarnya.

Summits Attack Kesiangan
Setelah selesai istirahat, mereka melakukan summits attack atau perjalanan menuju Puncak Puthuk Gragal yang jaraknya dari lumayan panjang.

Lantaran summits attack-nya agak kesiangan, mereka tiba di puncak pukul 06 lewat dan gagal mendapatkan pesona matahari terbit alias sunrise namun tetap bersyukur karena sudah sampai di puncak dengan selamat.

Di puncak mereka tak lupa mengabadikan kebersamaan dengan ber-swafoto dan  menikmati serta mengabadikan keindahan alam sekitar.


Di puncak Phutuk Gragal mereka disuguhkan antara lain pemandangan Gunung Penanggungan berikut perkampungan di sekitar Kabupaten Mojokerto.

"Suasananya begtu damai, tentram, dan segar. MasyaAllah, sungguh indah karya Sang Maha Pencipta," ucap syukur Hadi seraya mengutarakan bahwa melakukan nanbar ini bertujuan bukan semata sampai di puncak pun untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta serta mensyukuri atas segala nikmat-Nya.

Penulis: Hadi @mz_adiw, editor: Adji TravelPlus @adjitropis, foto: dok. Hadi & tim pendaki Ponpes Murottilil Qur'an



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.