Jumat, 27 September 2019

Inilah 18 Destinasi Wisata Peraih ISTA 2019

Sebanyak 18 destinasi wisata di Tanah Air berhasil menyabet anugerah Indonesia Sustainable Tourism Awards (ISTA) 2019 atas upaya mengembangkan wisata berkelanjutan.

Ke-18 destinasi tersebut terdiri atas 5 destinasi pemenang untuk kategori Tata Kelola Destinasi, yakni juara pertama peraih gelar Green Gold adalah Geowisata Piaynemo, kedua Wisata Grand Watu Dodol (Green Silver), ketiga Wisata Alam Green Canyon/Cukang Taneuh (Green Bronze), keempat Desa Wisata Cibuntu (Green), dan juara kelima Desa Wisata Koja Doi yang juga mendapatkan gelar Green.

Kemudian 4 destinasi pemenang kategori Pemanfaatan Ekonomi untuk Masyarakat Lokal yakni juara pertama disabet Siladen Resort and Spa yang berhak atas predikat Green Gold, kedua Desa Wisata Kereng Bangkirai (Green Silver), ketiga Desa Wisata “Boonpring” Sanankerto (Green Bronze), dan juara keempatnya Alam Asri Jelenga (Green).

Lalu 4 destinasi pemenang kategori Pelestarian Budaya yakni juara pertama Kampung Naga yang menggondol gelar Green Gold, kedua Wisata Alam Watu Rumpuk dan Pendakian Tapak Bima (Green Silver), ketiga Museum Pasifika (Green Bronze), dan juara keempat Dusun Bambu (Green).

Serta 5 destinasi peraih kategori Pelestarian Lingkungan, yakni juara pertama Bukit Peramun yang memboyong gelar Green Gold, kedua Desa Wisata Sesaot (Green Silver), ketiga Kampung Wisata Saporkren Forest Park (Green Bronze), keempat Sebangau Koran River (Green Bronze), dan juara kelima Desa Wisata Kertosari yang menyabet predikat Green.

Penyerahan penghargaan ISTA 2019 bertempat di Ballroom the Ritz-Carlton Jakarta, Kamis (26/09/2019) malam.

Ketua Pelaksana ISTA 2019, Dadang Rizky Ratman dalam siaran persnya mengatakan pariwisata Indonesia sangat kuat dalam bidang kekayaan alam dan keragaman budayanya.

Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk membenahi beberapa bidang, diantaranya bidang pariwisata berkelanjutan serta bidang kesehatan.

"ISTA hadir untuk mendorong pengembangan pariwisata yang memperhatikan lingkungan hidup di sekitar destinasi wisata," ungkapnya.

Menurut Dadang yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata (Kemenpar), pengembangan destinasi wisata sudah wajib menggunakan konsep pariwisata berkelanjutan.

"Dalam pembangunan resort misalnya, harus memperhatikan pembangunan lingkungan dan masyarakat sekitar," tegasnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Indonesia Sustainable Tourism Council, I Gede Ardike mengimbau para pemenang ISTA dapat didorong untuk mengikuti sertifikasi.

"Dengan begitu secara resmi dapat dipertanggungjawabkan bahwa destinasi terkait telah menerapkan konsep pembangunan kepariwisataan berkelanjutan," terang Ardike.

ISTA 2019 atau yang ke-3 digelar  Kemenpar ini juga memberikan apresiasi kepada sejumlah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Ada 9 Pokdarwis yang mendapat apresiasi terdiri atas 5 Pokdarwis Mandiri, pemenangnya untuk Peringkat I Dukuh Penaban, Kab. Karangasem, Bali; Peringkat II Tlatar Seneng, Kab. Sleman D.I Yogyakarta; Peringkat III Ki Amuk, Kota Serang, Banten;  Peringkat IV Dukung Alas Lestari, Kab. Malang, Jawa Timur, dan  Peringkat V Mangir, Kab. Bantul, D. I Yogyakarta.

Selanjutnya 4 Pokdarwis Berkembang yakni Peringkat I Dewa Katar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan; Peringkat II Kuala Abadi, Kota Bontang, Kalimantan Timur; Peringkat III Buntu Burake, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dan Peringkat IV Kampung Warna Warni Janju, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Bukan cuma itu, dalam malam penganugerahan ISTA 2019 yang dihibur dengan penampilan diva pop Indonesia Rossa, juga terselenggara Penandatanganan MoU Kerjasama Penelitian untuk Pariwisata Berkelanjutan antara Monash University dan UGM.

Penandatangan itu disaksikan antara lain oleh Menteri Pariwisata dan Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig @adjitropis)
Foto: dok.biro komlik kemenpar

Captions:
1. Peraih ISTA 2019 berfoto bersama Menpar Arief Yahya.
2. Ketua Pelaksana ISTA 2019, Dadang Rizky Ratman.
3. Ketua Indonesia Sustainable Tourism Council, I Gede Ardike.
4. Penandatanganan MoU Kerjasama Penelitian untuk Pariwisata Berkelanjutan antara Monash University dan UGM.

Kamis, 26 September 2019

M Bloc, Destinasi Wisata Baru Kembalikan Kejayaan Blok M

Kawasan Blok M dengan Melawai-nya pernah berjaya pada tahun 80-an sebagai pusat kegiatan kreatif anak muda Jakarta. Nah, untuk mengembalikan kejayaan itu, kini hadir M Bloc sebagai creative hub multi-fungsi bagi komunitas milenial.

M Bloc berada di Jl. Panglima Polim Raya No.37, Kelurahan Melawai, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sementara alamat lamanya tertulis Jalan Sultan Hasanuddin, sebagaimana tertera di papan alamat di deretan rumah yang kini menjadi toko dan kedai bergaya klasik namun berkonsep kekinian itu.

Lokasinya sangat strategis, berdekatan dengan kawasan niaga dan pusat perbelanjaan Blok M yang sekaligus diapit oleh dua stasiun MRT, yaitu Stasiun Blok M dan ASEAN serta bisa dijangkau dengan bus Trans Jakarta berbagai jurusan, turun di Terminal Blok M.

M Bloc ini mengalih-fungsikan lahan seluas 6.500 meter persegi milik Perusahaan Umum Percetakan Uang RI (Peruri), yang awalnya berfungsi sebagai komplek perumahan karyawan dan gudang tempat produksi uang yang sudah tidak beroperasi menjadi sebuah ruang publik kreatif dan ruang interaksi berkonsep kolaboratif yang digarap oleh PT Ruang Riang Milenial.

Di M Bloc ada 16 unit bekas rumah karyawan Peruri bergaya post-colonial berlantai dua yang telah eksis sejak dekade 1950-an, dimanfaatkan sebagai shophouse oleh berbagai brand lokal ternama baik itu kuliner, fashion, dan lainnya seperti Tokyo Skip Jack, Demajors, Beyoutiful, Kedai Tjikini, Mata Lokal, UnionWell, Titik Temu Coffee, Kebun Ide Gelato, Mr. Roastman, Rumah Lestari, Chickro, Suwe Ora Jamu, Mbok Ndoro, hingga Connectoon.

Jam operasionalnya buka mulai pukul 10 pagi sampai pukul 10 malam.

Selain itu ada dua unit gudang bekas produksi uang berukuran sekitar 900 meter persegi yang berada di bagian dalam telah disulap menjadi restoran dan roastery bernama _Oeang serta M Bloc Live House, sebuah venue musik berkapasitas maksimal 350 orang yang digunakan untuk konser musik serta berbagai pertunjukan seni lainnya.

Khusus venue musik M Bloc Live House, buka sampai pukul 12 malam.

Ada enam orang inisiator yang terlibat dalam proyek kolaboratif ini yakni Wendi Putranto, Glenn Fredly, Handoko  Hendroyono, Lance Mengong, Jacob Gatot Sura, dan Mario Sugianto.

Direktur Program M Bloc Wendi Putranto mengatakan sebagai program reguler M Bloc akan menyuguhkan konser musik lintas genre hampir setiap hari.

"Kami akan menghadirkan artis-artis ternama dalam negeri atau band-band lokal pendatang baru berpotensi yang terkurasi dengan baik. Kami juga sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai stakeholder industri kreatif di Tanah Air," terangnya saat jumpa pers di M Bloc, Kamis (26/9/2019).

Menurut Wendi Jakarta di masa depan harus memiliki sirkuit musik lokal yang walaupun kecil namun mampu melahirkan nama-nama besar yang di kemudian hari bakal memenuhi stadion, salah satunya dimulai dari M Bloc.

"Kota ini juga berpotensi menjadi destinasi utama wisata malam musik di Asia Tenggara. Artis-artis dalam negeri maupun mancanegara yang sedang menggelar tur konser kini memiliki rumah singgah untuk bermain di depan public Jakarta,” ujarnya.

Kata Glenn Fredly, M Bloc dapat dimanfaatkan oleh generasi milenial komunitas kreatif untuk saling berinteraksi, bukan hanya musisi pun komunitas seni lainnya seperti sastra. "Misalnya bisa buat acara bedah buku sastra dan lainnya," jelas Glenn.

M Bloc ini boleh dibilang menjadi oase multi-seni di tengah Jakarta sebagai wadah lintas kreatif, lintas disiplin, dan lintas seni untuk bertemu dan berkolaborasi dalam pola pikir baru. "Juga sebagai pintu besar bagi semua pihak baik stakeholder maupun sumber daya manusia kreatif," tambah Glenn.

Direktur Keuangan Peruri Nungki Indraty berharap M Bloc ini dapat memberikan banyak manfaat, khususnya kepada generasi milenial. 

Dalam siaran pers-nya, M Bloc resmi dibuka untuk umum pada hari ini.

Acara pembukaan resmi M Bloc dilakukan Menteri Negara BUMN Rini Soemarno dan malam harinya dilakukan Grand Opening Party yang menampilkan Glenn Fredly, White Shoes and the Couples Company, dan Krontjong Toegoe.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Ini wajah depan M Bloc, destinasi wisata baru di Jakarta sebagai ruang publik kreatif bagi komunitas milenial untuk mengembalikan kejayaan Blok M.
2. Deretan rumah pegawai Peruri disulap jadi toko dan kedai kuliner, fesyen dan lainnya yang bergaya klasik dalam kemasan kekinian.
3. Salah satu toko di M Bloc.
4. Ini enam orang inisiator yang terlibat dalam proyek kolabortif berlabel M Bloc.
5. Ruang pertunjukkan musik di M Bloc.
6. Glenn Fredly, salah satu inisiator M Bloc diwawancarai sejumlah awak media usai jumpa pers.
7. M Bloc resmi dibuka Kamis, (26/9/2019).

Kamis, 19 September 2019

Tentang Desain Pengembangan Destinasi Pariwisata Waduk Jatigede Sumedang

"Dalam mendesain termasuk merencanakan pengembangan destinasi pariwisata, jangan menggampangkan dan serampangan, karena sifat pengembangan pariwisata SANGAT multi-sektor dan multi-disiplin".

Begitu antara lain pesan M. Faried Moertolo dalam tulisannya yang berjudul 'Tentang Desain Pengembangan Destinasi Pariwisata Waduk Jatigede Sumedang', yang dikirim ke TravelPlus Indonesia, Kamis, (19/9/2019).

Berikut isi tulisan lengkapnya:

Komitmen Presiden Joko Widodo sebagaimana 9 butir dalam NawaCita, ada terisi 3 (tiga) hal yang sangat relevan dalam pengembangan pariwisata nasional, meliputi butir 3, butir 6, dan butir 7.

Pada butir 3 tertulis : Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Selanjutnya pada butir 6 yakni : Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.

Dan pada butir 7 yakni : Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik.

Dalam kaitan itu, kepariwisataan sebagai salah satu sektor strategis terus dikembangkan agar mampu memberikan sumbangan dalam menggerakkan perekonomian daerah, baik dalam meningkatkan nilai tambah dan kapasitas sumber daya maupun perluasan lapangan serta kesempatan kerja.

Setelah resmi beroperasi pada tahun 2015, Pemerintah berupaya agar Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat tidak semata-mata untuk kepentingan mono sektor yakni pertanian, namun menambah fungsi dan manfaatnya menjadi lebih luas, yakni dengan menjadikannya sebagai destinasi pariwisata berbasis alam dan budaya.

Pengembangun pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan sektor-sektor pembangunan lainnya artinya derap pembangunan di Kabupaten Sumedang dan wilayah lain yang bersinggungan pasti akan memberikan kontribusi bagi pengembangun pariwisata. 

Sebaliknya, upaya pengembangun pariwisata di Kabupaten Sumedang akan mendorong dan rangsangan pembangunan sektor-sektor lainnya.

Pengaruhnya tak sebatas hanya aspek ekonomi saja, melainkan juga akan mewarnai aspek sosial dan budaya masyarakat, bahkan politik.

Pengaruh tersebut tentunya tidak hanya sebatas di Kabupaten Sumedang, melainkan akan berimbas di wilayah lainnya yang bersinggungan dengan Kabupaten Sumedang.

Kenyataan tersebut tentunya harus dipahami oleh semua pihak (stakeholder) utamanya oleh Aparatur Pariwisata di Kabupaten Sumedang, sehingga “tidak meng-gampangkan dan serampangan” dalam mendesain termasuk merencanakan pengembangan destinasi pariwisata. Karena sifat pengembangan pariwisata SANGAT multi-sektor dan multi-disiplin.

Juga, dalam pengembangan pariwisata sesungguhnya batas-batas wilayah administratif menjadi “kabur” karena wisatawan memiliki kemerdekaan dalam mengkonsumsi produk pariwisata.

Oleh karenanya, sinerjitas antar-wilayah baik skala Desa, Kecamatan, maupun Kabupaten menjadi penting dalam mendesain pengembangan pariwisata di Kabupaten Sumedang.

Konsep pengembangan pariwisata yang multi-dimensi dengan berbagai karakteristiknya tersebut, menjadikan pelaku usaha di industri pariwisata juga senantiasa dituntut melakukan inovasi pengembangan usaha termasuk dalam membangun komunikasi, antara lain melalui inovasi teknologi guna pengkuatan produktivitasnya.

Dalam hal ini, upaya pengembangan destinasi pariwisata Kabupaten Sumedang harus diselaraskan dengan Pengembangan Pariwisata Jawa Barat sebagai “provinsi pariwisata”.

Termasuk dipadukan dengan Pengembangan Pariwisata Nasional, sebagaimana diamanatkan dalam PP nomor 50 tahun 2011 tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPNAS).

Wilayah Sumedang sesungguhnya telah ada serta berkembang sudah cukup lama, dan kini usianya telah mencapai 441 tahun, sehingga telah memunculkan berbagai karya budaya yang khas bahkan unik.

Memiliki wilayah seluas 1.522,2 km2 yang terbagi dalam 26 Kecamatan dan 270 Desa dengan jumlah penduduk ± 1,3 juta jiwa atau rata-rata tingkat kepadatan 854 jiwa/Km2, dan tingkat kepadatan tertinggi ada di Sumedang kota.

Laporan BPS menyebutkan tahun 2010 penduduk miskin diperkirakan sebesar 12,94 % dari jumlah penduduk Kabupaten Sumedang, tahun 2016 turun menjadi 10,57 % dan tahun 2018 diperkirakan turun dikisaran angka satu digit yakni 9 %. Ini setara lebih rendah sedikit dengan angka kemiskinan nasional yakni diperkirakan mencapai 9,66 % pada tahun 2018.

Posisi strategis wilayah Kabupaten Sumedang yang bersinggungan wilayah Utara-Selatan dan Barat-Timur Jawa Barat, menjadikan wilayah Kabupaten Sumedang sebagai titik singgung (hub) sebagaimana fakta perkembangan aksesibilitas darat termasuk keberadaan jalan bebas hambatan (tol).

Adanya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati telah merubah lanskap aksesibilitas nasional terutama Jawa Barat.

Keadaan ini tentunya akan memberikan pengaruh perekonomian termasuk aspek pariwisata di Kabupaten Sumedang.

Namun besar kecilnya nilai tambah (value) yang diperoleh Kabupaten Sumedang sangat tergantung pada bagaimana mensikapi serta mensiasati situasi dan kondisi tersebut, untuk selanjutnya dirumuskan dalam rencana, strategi, dan aksi.

Dahulu, Kabupaten Sumedang cukup berwibawa dan pernah menyandang wilayah dengan lingkungan yang prima sehingga memperoleh penghargaan Adipura.

Sebagai bukti, selanjutnya dilambangkan dengan membuat monumen dipersimpangan pusat Sumedang kota. Hingga saat ini monumen Adipura masih kokoh ditengah lingkungan yang gersang dan sumpek.

Kini tantangan Pemda Sumedang kian berat bahkan berakibat tidak bersahabat dengan pariwisata seperti lingkungan kumuh, semrawut, dan lemah dalam menegakkan GSB (garis sempadan bangunan), warga yang semakin tidak tertib dalam berlalu lintas, iklan rokok yang kian meluas dan merengsek perdesaan, serta berbagai kecenderungan negatif lainnya.

Produk pariwisata (3A = Aksesibilitas, Atraksi Wisata, Amenitas) di Kabupaten Sumedang sesungguhnya bervariatif namun keberagaman tersebut belum dikembangkan karena terbatasnya kemampuan daerah.

Saat ini kuliner tahu telah cukup populer di masyarakat Jawa Barat, juga di daerah lain. Bahkan mampu mem-branding “Tahu Sumedang”.

Juga produk pertanian seperti Mangga Gedong Gincu dan Pisang dari Sumedang cukup populer bahkan telah divisualkan dalam bentuk monumen di beberapa sudut jalan.

Namun citra produk Sumedang tersebut belum “dirawat” secara terstruktur dan berkesinambungan. Bahkan, kini cenderung terabaikan.

Hingga kini, Kabupaten Sumedang telah memiliki berbagai daya tarik wisata yang didukung dengan ketersediaan 20 hotel dengan kapasitas 1.860 kamar.

Dalam kaitan dengan sumber daya manusia di pemerintahan daerah, pemahaman pariwisata masih sangat terbatas sehingga dalam menjalankan fungsi dan tugasnya belum efektif dan efisien.

Di lapangan masih kerap dijumpai praktek-praktek premanisme (pungutan liar, dlsb) di obyek dan daya tarik wisata (ODTW) sehingga merusak citra positif pariwisata dan menghambat terwujudnya kenyamanan wisatawan.

Hingga saat ini, kegiatan Pembangunan Destinasi terutama pemasaran dan mempromosikan produk pariwisata masih sangat terbatas dan masih menggunakan cara konvensional.

Penggunaan teknologi informasi masih dalam kategori 2.0 dan “biasa-biasa saja”.

Namun, pemanfaatan teknologi digital di industri pariwisata masih lebih baik dan berjalan sesuai harapan, baik dalam besaran kualitas, interdependensi, dan keberlanjutan.

Dalam hal ini, event pariwisata masih belum di-explore dan masih dibutuhkan upaya yang lebih besar untuk bisa tampil dengan skala nasional.

Juga sinergi antarsektor pembangunan di Kabupaten Sumedang (SKPD) belum terwujud seperti yang diharapkan.

Dalam hal ini penetapan skala prioritas membutuhkan kajian yang komprehensif. Namun faktanya belum dilakukan sebagaimana sepatutnya.

Tentunya, diperlukan dukungan dan upaya Pemerintah untuk menjembatani terciptanya peran dijajaran Pemerintah Daerah (Pemangku Kepentingan pariwisata) dalam upaya pengembangan destinasi pariwisata yang pada gilirannya dapat berimbas dalam mengembangkan usaha secara lebih sehat dan kreatif.

Dalam hal ini, adanya pendampingan yang menyangkut upaya pemahaman tentang Pengembangan, Desain, Rencana Aksi, dan Desiminasi serta Sosialisasi destinasi dan pemanfaatannya diharapkan dapat membantu mengurangi permasalahan tersebut, sehingga dalam mengembangkan destinasi, memasarkan, dan mempromosikan produk pariwisata dapat dilakukan lebih efisien dan efektif.

Untuk itu, Kementerian Pariwisata harus berperan guna membantu kesiapan Pemerintah Daerah Sumedang dalam meningkatkan performanya.

Dalam hal ini pendekatan komunikasi dalam konteks kebutuhan perencanaan perlu dilakukan secara botom up dalam arti dibangun komunikasi dari level Desa selanjutnya meningkat pada lingkup Kecamatan, hingga pada skala Kabupaten agar secepatnya terealisasi Waduk Jatigede sebagai destinasi pariwisata.

Dan, memperoleh manfaat (value) yang besar sekaligus meminimalisir kemungkinan timbulnya dampak negatif dalam jangka panjang. 

Undang-undang Kepariwisataan nomor 10 tahun 2009, mengamanatkan bahwa Daerah harus menyiapkan RIPPDa (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah) yang berbobot dan berwibawa sebagai panduan dan pedoman dalam pengembangan pariwisata.

Adanya Peraturan Daerah nomor 8 tahun 2014 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Kabupaten Sumedang tahun 2014-2025 ; faktanya RIPPDa tersebut belum bisa dijadikan sebagai referensi apalagi sebagai pedoman pembangunan guna terwujudnya destinasi pariwisata yang atraktif dan berwawasan lingkungan sehingga mampu meningkatkan pendapatan nasional, daerah, dan masyarakat.

***
Penulis: M. Faried Moertolo, (pengamat pariwisata, pebisnis & mantan Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri pada masa Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) 

Foto: dok. M. Faried Moertolo & adji

Captions:
1. M. Faried Moertolo.
2. Sepenggal wajah Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jabar.
3. M. Faried Moertolo membuat tulisan ini usai mengamati langsung Waduk Jatigede dan beberapa lokasi di Sumedang.
4. Kuda Renggong, seni pertunjukan tradisional asli Sumedang.
5. Salah satu gerbang waduk/bendungan Jatigede.

Selasa, 17 September 2019

Oktober, Waktu yang Tepat ke Raja Ampat, 2 Iven Ini Alasannya

Traveler punya rencana ke Raja Ampat tahun ini? TravelPlus Indonesia sarankan bulan Oktober saja. Pasalnya ada 2 iven berkelas nasional yang menarik untuk dilihat, yakni Festival Seni Budaya Papua Barat dan Festival Pesona Bahari Raja Ampat.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya usai me-launching Calender of Event (CoE) Papua Barat 2019 bersama Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Selasa (17/9/2019) malam mengatakan 2 iven tersebut bisa dibilang spesial karena masuk dalam 100 Wonderful Event.

"Dipastikan atraksi yang ditampilkan mulai dari pakaian pernampil/penari/karnaval, koreografi, aransemen musik-nya berstandar nasional," ujar Arief Yahya.

Di Festival Seni Budaya Papua Barat yang akan berlangsung selama lima hari pada 7- 11 Oktober 2019, traveler bisa menyaksikan berbagai lomba antara lain lomba tari kreasi baru, lomba musik tradisional, lomba folksong, body painting, dan lomba tari pergaulan yosim pancar.

Selain itu juga ada lomba kuliner khas Papua Barat hingga pameran benda-benda budaya (hasil kerajinan tangan khas Papua Barat).

Sementara di Festival Pesona Bahari Raja Ampat yang akan  berlangsung di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC) Raja Ampat selama lima hari (18-22 Oktober 2019), traveler dapat melihat berbagai kegiatan antara lain Wild Life (mengenal lebih dekat flora dan fauna Raja Ampat); Water Activities (snorkling, diving); Island Hopping (mengunjungi pulau Piyainemo dan Kepulauan Fam); Opening-Closing Ceremony (rangkaian acara pembukaan dan penutupan Festival Pesona Bahari Raja Ampat) dengan menampilkan kesenian, budaya, dan produk ekonomi kreatif.

Festival Pesona Bahari Raja Ampat tahun ini mengusung tema ‘Exotic Raja Ampat, From Ridge to Reef’.

Wagub Papua Barat M. Lakotani menambahkan kearifkan budaya masyarakat dalam menjaga lingkungan alam membuat daya tarik wisata alam di Papua Barat, khususnya Raja Ampat, dapat terjaga dengan baik sampai saat ini.

Pariwisata Provinsi Papua Barat, lanjut Lakotani, sejak 2016 perkembangannya sangat pesat dengan kunjungan wisatawan naik hingga 45 persen pertahun.

“Pada 2018 kunjungan wisatawan ke Raja Ampat sebanyak 44 ribu terdiri atas 52 persen wisatawan mancanegara (wisman) dan 48 persen wisatawan nusantara (wisnus). Pasca-munculnya insiden baru-baru ini, kondisi Papua Barat saat ini sudah sangat kondusif untuk berbagai kunjungan,” ungkap Lakotani.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig @adjitropis)
Foto: dok.biro komlik kemenpar

Captions:
1. Menpar Arief Yahya didampingi Wagub Papua Barat M. Lakotani dan Kadispar Papua Barat saat menyampaikan keterangan kepada sejumlah awak media.
2. Menpar Arief Yahya saat memberi kata sambutan.
3. Menpar Arief Yahya me-launching CoE Papua Barat 2019 dengan memukul tifa.

Launching CoE Papua Barat 2019 Promosikan Aneka Batik Beragam Motif

Acara launching Calendar of Event (CoE) Papua Barat 2019 yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Jakarta, Selasa (17/9/2019) malam, turut mempromosikan aneka batiknya yang bermotif khas.

Kepala Bidang (Kabid) Pemasaran Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Raja Ampat Ina Rumbekwan mengatakan promosi Batik Papua Barat di acara launching ini untuk memperkenalkan kepada tamu undangan bahwa Papua Barat juga punya batik dengan motif yang unik dan beragam.

"Selama ini wisatawan tahunya  cuma koteka, noken, dan ukiran atau patung kayu, padahal Papua Barat dan Papua juga punya batik, nah lewat acara ini kita ingin memperkenalkannya biar semakin dikenal masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya," terang Ina Kepada TravelPlus Indonesia di venue acara.

Batik yang dipamerkan ada Batik Papua Barat dan Batik Papua.

"Kalau Batik Papua Barat antara lain motifnya Burung Kasuari dan Burung Cenderawasih. Sedangkan Batik Papua antara lain motif Tifa atau alat musik pukul tradisonal Papua, ukiran Biak, koteka, kapak, motif Asmat berupa simbol patung-patung kayu suku Asmat, tameng, cicak, kadal, buaya, ikan, honai atau rumah adat Papua, dan motif Kamoro yaitu simbol patung berdiri," jelas Ina.

Harga per lembar kain Batik Papua, lanjut Ina tergantung bahannya dan juga proses pembatikannya.

"Kalau batiknya berbahan sutra jelas lebih mahal dibanding katun. Begitupun kalau batiknya itu batik tulis pasti lebih mahal daripada batik cetak atau print" tambah Ina.

Untuk batik berbahan katun harganya mulai dari puluhan ribu sampai ratusan ribu per kain. "Kalau batik berbahan sutra mulai ratusan ribu sampai Rp 2 jutaan lebih," ungkap Ina.

Wisatawan yang berencana berwisata di Papua Barat saat penyelenggaraan Festival Seni Budaya Papua Barat di Manokwari dan Festival Pesona Bahari Raja Ampat 2019 di Raja Ampat Oktober nanti, lalu ingin memborong aneka bahan batik khasnya antara lain bisa pergi ke Toko Batik Papua di Jl. Trikora, Wosi, Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari dan Toko Aneka Batik di Sorong, Papua Barat.

"Jika tak sempat, bisa memborongnya di Badan Penghubung Daerah Provinsi Papua Barat, Jln Cidurian No 1, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat," tambah Ina.

Motif Burung Cenderawasih dan Kasuari, sambung Ina menjadi motif Batik Papua Barat yang paling banyak diminati wisatawan. "Soalnya kedua motif itu sangat mencirikan ikon Papua Barat" pungkas Ina.

Acara peluncuran CoE Papua Barat 2019 yang terdiri atas 2 iven budaya dan alam yakni Festival Seni Budaya Papua Barat di Manokwari tanggal 7- 11 Oktober dan Festival Pesona Bahari Raja Ampat di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Raja Ampat tanggal 18-22 Oktober mendatang dilakukan Menpar Arief Yahya didampingi Wagub Papua Barat M. Lakatoni dengan memukul Tifa.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig @adjitropis)

Captions:
1. Aneka batik Papua yang dipamerkan di acara launching CoE Papua Barat 2019 di Jakarta.
2. Motif Burung Kasuari khas Batik Papua Barat.
3. Motif Burung Cenderawasih jadi motif batik Papua Barat dan Papua yang paling diminati wisatawan.
4. Menpar Arief Yahya me-launching CoE Papua Barat 2019 dengan memukul Tifa. (dok.biro komlik kemenpar)

Minggu, 15 September 2019

Ini Suguhan Festival Bahari Jakarta 2019 di Kepulauan Seribu


Punya rencana berwisata bahari ke Kepulauan Seribu bulan ini? Sepertinya itu pilihan waktu yang tepat. Pasalnya tanggal 21-22 September 2019, di Kepulauan Seribu khususnya di Pulau Tidung, Pulau Pramuka dan Pulau Pari, ada iven bertajuk Festival Bahari Jakarta.


Di Festival Bahari Jakarta (FBJ)  2019 ini, Anda bakal disuguhkan berbagai acara menarik dan mengesankan serta punya kepedulian akan lingkungan.

Dalam pers release yang TravelPlus Indonesia terima dijelaskan FBJ 2019 berkonsep “Love Our Ocean”. Konsep ini  mengkampanyekan gerakan dengan jargon ASIK (Anti Sampah Plastik).

Lewat konsep tersebut, Anda bisa mengikuti bermacam kegiatan konservasi laut seperti aksi bersih pantai dan aksi bersih dalam laut, tranplantasi terumbu karang yang rencananya diawali dengan 1000 bibit karang, dan juga menanam sampai 3000 bibit mangrove.

Semua aktivitas positif itu digiatkan oleh volunteer milenial dari komunitas Maritim Muda, anggota Pramuka Pulau Tidung, dan sukarelawan umum dari seluruh Indonesia.

Di FBJ kali ini Anda juga bisa mengikuti berbagai lomba antara lain kompetisi underwater photo dan kompetisi budaya pesisir, serta kompetisi renang OWS dengan lintasan sepanjang 700 meter.

Anda juga bisa melihat kompetisi perahu hias yang diikuti masyarakat nelayan dan penggiat wisata pulau.

Kabarnya total hadiah yang dipersembahkan oleh Pemprov DKI senilai lebih dari 100 juta rupiah.

FBJ 2019 juga akan dimeriahkan dengan kegiatan Sudin Pariwisata Pulau Seribu yaitu Oceanic Folk Festival (OFF) yang berkonsep mempertemukan kebudayaan bahari masyarakat internasional dari Afrika, Amerika Latin, dan Asia-Pasifik dengan kebudayaan masyarakat bahari Pulau Tidung yang khas.

Di samping itu, OFF Jakarta juga akan mendatangkan beberapa artis nasional maupun internasional seperti Andi Riff Kamila, Amelia Ong, Ino Ensemble, Hip Hop Kupang, Viva Brazil (Brazil), Supa Kalulu (Zimbabwe), Bennett Brandeis (USA), Han Bapeh (Korea), Sindhu Raj (India) serta kesenian unik dari Betawi seperti Wayang Kulit Betawi dan Tanjidor Brass Band.

FBJ yang juga didukung Pasar Jaya, pada tanggal 22 September akan meluncurkan Jak Grosir, yaitu gudang pusat perdagangan di Pulau Tidung Kecil.

Grosir tersebut bertujuan menyediakan dan menjaga kestabilan harga bahan pokok, hal yang krusial bagi kebutuhan masyarakat pulau.

Tidak ketinggalan UKM dari Sudin KPKP Pulau Seribu akan menggelar bazar pangan khas Pulau Tidung.

Jadi Anda bisa memborong keripik sukun, kerupuk anggur laut, ikan asin belah, tangkwe, kerupuk cumi, manisan ceremai, dan masih banyak lagi panganan yang sangat pas untuk Anda bawa pulang sebagai buah tangan.

FBJ diprakarsai oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Pemprov DKI Jakarta, yang perwujudannya diterjemahkan oleh organizer Jak Convex.

Iven bahari ini diharapkan menjadi opsi yang menarik dan ekonomis untuk weekend gateway.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan direncanakan akan hadir pada acara puncak FBJ.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok.fatkhurohim 

Captions:
1 & 2.  Lomba perahu hias, salah satu acara yang akan disuguhkan dalam Featival Bahari Jakarta (FBJ) 2019.

Kamis, 12 September 2019

Turis Asing Makin Minati Tanjung Lesung, Ini Buktinya

"Tamu Tanjung Lesung Beach Hotel dari Perancis, menginap 5 malam dan melakukan aktivitas di Ujung Kulon".

Begitu isi captions yang tertera di bawah 4 foto yang diunggah pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Lesung di akun Instagram (IG)-nya @tanjunglesungid, 2 hari lalu.

Unggahan itu kemudian dikirim Presiden Direktur PT Banten West Java (BWJ), Poernomo Siswoprasetijo selaku pihak pengelola KEK Tanjung Lesung kepada TravelPlus Indonesia, Kamis (12/9/2019).

Mendapat kabar menyenangkan itu, TravelPlus Indonesia langsung memberi ucapan selamat dan langsung menyodorkan berapa pertanyaan terkait, antara lain jumlah turis asing atau wisatawan mancanegara (wisman) yang menginap di Tanjung Lesung saat ini.

Tak lama berselang, Poernomo membalasnya. "Nah detailnya bisa tolong komunikasi dengan Widiasmanto, General Manager atau GM Tanjung Lesung Beach Hotel ya," tulisnya.

Widiasmanto yang biasa disapa Widi membenarkan kalau dalam beberapa Minggu ini Tanjung Lesung telah dikunjungi beberapa turis asing terutama dari Eropa yakni Jerman, Belanda, Perancis, dan Ingris. Selain itu juga dari USA dan China.

"Umumnya mereka datang bersama keluarga atau berpasangan, couple," terangnya.

Rata-rata lama tinggal wisman itu di sini, sambung Widi, antara 3 sampai 5 malam.

"Mereka selain beraktivitas di area Tanjung Lesung baik di darat, beraktivitas watersports, dan menikmati sunset, juga menyambangi Ujung Kulon," ungkapnya.

Harga paket ke Ujung Kulon dari Tanjung Lesung per speedboat mulai Rp 6 juta - Rp 9 juta. "Kapasitas boat-nya bisa 7 sampai 10 orang," kata Widi.

Ini nama-nama wisman yang berkunjung dan menginap di Tanjung Lesung sejak awal September 2019.

Ada Geraldine Reitz Luxemboui (London) yang datang 1-3 September, Baptistelafond (Perancis) 4-5 September, Mouakil Michael (Perancis) 6-11 September, Lea Musekamp (Jerman) 7-9 September,  Alan Van Der Meijdan (Belanda) 10-12 September, dan Max Allen (Amerika) 10-13 September.

Menurut Widi komentar wisman yang berwisata di Tanjung Lesung baru-baru ini, rata-rata cukup positif dan semua mengaku senang selama tinggal di Tanjung Lesung.

Untuk meningkatkan kunjungan wisman dan wisnus ke Tanjung Lesung, Widi berharap kedepan kegiatan promosi Tanjung Lesung, baik dari dukungan pemerintah maupun stakeholders terus digenjot lebih giat lagi agar wisnus dan wisman benar-benar tahu kalau Tanjung Lesung memang sudah aman dan nyaman dikunjungi.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam kunjungan kerjanya ke Tanjung Lesung, awal April lalu menargetkan Tanjung Lesung harus mampu menarik 1 juta  wisman atau setara dengan US$ 1 milyar.

Kata Arief Yahya untuk mencapai target itu ada beberapa upaya yang harus dilakukan, salah satunya harus ada infrastruktur Tol Panimbang dan Bandara Banten.

"Sejak awal sudah dideklarasikan 1 juta wisman atau US$ 1 milyar. Saya janjikan kepada Presiden kalau Tol Panimbang dibangun maka akan mendatangkan lebih banyak devisa dibandingkan nilai investasi yang dikeluarkan," ujar Arief Yahya ketika itu.

Menurut Arief Yahya keberadaan akses jalan tol itu akan mempersingkat perjalanan wisatawan menjadi dua jam.

Untuk mendatangkan wisman ke Tanjung Lesung, lanjut Arief Yahya, pembangunan bandara juga amat diperlukan di Banten karena dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.

"Saya rasa dengan adanya bandara, Banten mungkin sekali mendatangkan lebih banyak wisatawan," ungkap Arief Yahya.

Dia memberi contoh, jumlah kunjungan ke Toba lewat Bandara Silangit meningkat dari tahun 2017 sebesar 280 ribu menjadi 420 ribu di tahun 2018.

Sementara dari pihak pengelola KEK Tanjung Lesung, Poernomo menjelaskan untuk memikat wisatawan, pihaknya sudah menyiapkan berbagai program menarik seperti wisata pantai, wisata desa, menyediakan  berbagai amenitas seperti beach club Lalassa serta menggelar berbagai event.

"Akhir bulan ini, tepatnya tanggal 28-29 September 2019 akan ada sport tourism event bertajuk Rhino Triathlon. Acaranya bakal seru, ayo rame-rame datang ke Tanjung Lesung," ungkap Poernomo.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok.@tanjunglesungid & humas kemenpar

Captions:
1. Dua turis asing asal Perancis menginap di Tanjung Lesung dan mengikuti tur ke Ujung Kulon dengan speedboat.
2. Wisman mengabadikan pesona perairan Tanjung Lesung.
3. Pesona sunset Tanjung Lesung.
4. Wisman bersepeda keliling Tanjung Lesung.
5. Menpar Arief Yahya berikat kepala motif Badak Jawa khas Banten, berbincang dengan Presiden Direktur PT Banten West Java (BWJ), Poernomo Siswoprasetijo selaku pihak pengelola KEK Tanjung Lesung.
6. Salah satu bahan promosi iven Rhino Triathlon di Tanjung Lesung.

Anggaran Pembangunan Infrastruktur 5 Destinasi Super Prioritas Rp 9,35 Triliun

Anggaran bagi pembangunan infrastruktur dan utilitas di 5 destinasi super prioritas yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang senilai Rp 9,35 triliun dan akan diselesaikan pada 2020.

Itulah antara lain hasil kesimpulan dan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata III 2019 di Swissotel Jakarta PIK Avenue, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, yang berakhir pada Rabu sore (11/9/2019).

Dalam kesimpulan tersebut disebutkan dukungan dana pembangunan infrastruktur di 5 destinasi pariwisata super prioritas (DSP) sebesar Rp 9,35  triliun dialokasikan dari anggaran lintas kementerian/lembaga untuk tahun anggaran 2020.

Sejumlah program kegiatan antara lain peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) pariwisata, pemberdayaan masyarakat, dan daya saing industri pariwisata di 5 DSP tetap dilanjutkan dan ditingkatkan secara terpadu.

Selain itu program kegiatan pengembangan pemasaran dan promosi di 5 DSP juga tetap dilanjutkan dan ditingkatkan secara terintegrasi.

Sementara itu sebagai tindak lanjut dari hasil Rakornaspar tersebut akan dilaksanakan rapat koordinasi lintas kementerian/lembaga untuk memastikan rencana aksi kegiatan dan penganggaran masing-masing dalam mendukung pengembangan 5 DSP.

Selain itu dibentuk tim monitoring dan evaluasi terpadu lintas kementerian/lembaga untuk memastikan pembangunan infrastruktur dan utilitas dasar pariwisata di 5 DSP dilakukan oleh seluruh pihak (lintas sektor), kemudian perkembangan pelaksanaannya secara periodik per 3 bulan akan dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo.

Dalam siaran pers, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menjelaskan pengintegrasian dukungan kementerian/lembaga dalam pengembangan DSP termasuk peningkatan daya saing SDM, masyarakat dan industri pariwisata menjadi fokus bahasan dalam rakornaspar.

Kemenpar bersama berbagai instansi terkait mulai menjalankan instruksi presiden terkait pengembangan 5 DSP di antaranya di  Danau Toba telah dibangun The Kaldera Toba Nomadic Escape di atas lahan Zona Otorita Kabupaten Toba Samosir.

Kawasan itu akan diresmikan peletakan batu pertamanya (groundbreaking) pada 10 Oktober 2019.

Sementara di DSP Borobudur, pemerintah telah membangun Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo. Hingga Oktober 2019 bandara ini telah melayani 66 penerbangan dengan kapasitas bandara mencapai 3 juta penumpang.

Kemudian di Mandalika, proses pengukuran topografi dan konstruksi untuk pembangunan Sirkuit MotoGP akan dimulai pada Oktober 2019 dan ditargetkan selesai pada 2020. 

Di Labuan Bajo, proses pembangunan saat ini telah mencapai tahap finalisasi pembangunan hotel, marina, area komersial, dan pelabuhan feri.

Pada Oktober 2019 pemerintah menargetkan percepatan penetapan Peraturan Pemerintah (PP) perihal KEK Pariwisata Likupang yang telah disepakati pada rapat kabinet pada 27 Agustus 2019.

Arief Yahya mengatakan Presiden Joko Widodo menginginkan pembangunan infrastruktur di kawasan DSP dipercepat sehingga bisa dipromosikan pada 2020.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah menganggarkan Rp6,5 triliun untuk 4 destinasi super prioritas dengan rincian; Danau Toba Rp2,2 triliun, Borobudur Rp2,1 triliun, Labuan Bajo  Rp6,3 triliun, dan Mandalika Rp1,9 triliun.

Pengembangan kawasan DSP juga membutuhkan komitmen para kepala daerah untuk mempercepat pembangunan dan mendukung tercapainya target pemerintah dalam menumbuhkan sektor pariwisata dan devisa negara.

Oleh karena itu Rakornas Pariwisata III 2019 yang berlangsung selama dua hari (10-11/9/2019) juga dihadiri perwakilan dari seluruh kementerian/lembaga terkait serta para kepala daerah (gubernur dan bupati) dari 5 DSP.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi menyampaikan salah fokus pembangunan Sumut yaitu menyangkut sektor pariwisata.

Data wisatawan per Januari-Juli 2019 menunjukkan kunjungan wisman ke Sumut mencapai 137 ribu, pada 2018 mencapai 231 ribu wisman, dengan wisman terbanyak berasal dari Malaysia, Singapura, Tiongkok, Jerman, dan Australia. "Yang akan kami lakukan adalah branding Sumut sebagai destinasi wisata, penyelenggaraan event bertaraf internasional, peningkatan wisata melalui mapping kebutuhan wisatawan, dan menyediakan aplikasi digital untuk mempermudah aktivitas wisata pengunjung," jelasnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjelaskan 4 kawasan strategis Jawa Tengah yang sedang dikembangkan meliputi Borobudur, Karimunjawa, Sangiran, dan Dataran Tinggi Dieng.

"Tugas provinsi yaitu melakukan penetapan lokasi dan menciptakan event yang lebih banyak lagi. Beberapa di antaranya adalah Borobudur Marathon dengan target menjadi Marathon terbaik di Indonesia, Solo International Performing Art (SIPA), Dieng Cultural Festival, Festival Payung, dan Solo Batik Carnival," ujarnya.

Selanjutnya, Asisten Perekonomian dan Pembangunan D.I. Yogyakarta Trisaktiyana menjelaskan dukungan pemerintah DIY terhadap kemajuan pariwisata, salah satunya dengan melakukan pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) di perbatasan Purworejo, Jawa Tengah (Jateng).

Hal ini dilakukan agar efek pembangunan bandara bisa terbagi dua bagi Jateng dan Yogyakarta.

"Kami juga sudah membuat akses jalan Temon-Borobudur, akses jalan Prambanan-Gading, dan jalan lintas Selatan," ungkapnya.

Trisaktiyana menambahkan ada beberapa tugas lagi yang masih harus dilakukan antara lain mengenai ketersediaan air bersih yang lebih banyak serta pembangunan dalam sistem kebersihan kota. “Untuk segi kebersihan, Pemda sudah membangun TPA Piyungan Bantul yang lebih modern," jelasnya.

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Sitti Rohmi Djalilah menyampaikan untuk pengembangan wisata Lombok, Pemda setempat menetapkan target desa wisata sebanyak 99 desa pada 2023.

Saat ini, Desa Wisata jumlahnya masih jauh di bawah itu, untuk itu Pemda akan mendorong pembangunan desa wisata lain sehingga target tersebut dapat tercapai. "Jenisnya bermacam-macam, antara lain desa wisata yang mengedepankan alam, budaya, dan lain-lain. Selain itu, Pemda juga menyiapkan Gili Meno sebagai daerah wisata keluarga," terangnya.

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey mengatakan pihaknya optimistis dengan peningkatan jumlah wisman ke Sulut.

Sama seperti daerah lain, Sulut pun terus melakukan perbaikan pada sejumlah aspek yang dapat mendukung peningkatan jumlah wisatawan, seperti memperbanyak penyelenggaraan event tahunan, serta mendorong penambahan ketersediaan fasilitas penginapan dan kemudahan akses wisata.

"Jumlah wisman yang datang ke Sulut pada 2018 yakni 127.879 wisman, sementara hingga Juli 2019 sudah ada 100.000 wisman yang berkunjung. Bila melihat angka ini, kami optimistis, jumlah wisatawan yang datang ke Sulut akan lebih banyak dari tahun kemarin," paparnya.

Berikutnya Kepala Dinas Pariwisata NTT Wayan Darmawa menjelaskan pertumbuhan pariwisata di NTT dalam beberapa tahun terakhir sangat pesat.

Daya tarik alam dan budayanya mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke sana. Tercatat pertumbuhan perekonomian di NTT mencapai 6,3 persen.

"Hal ini membuktikan bahwa pariwisata berkontribusi terhadap pergerakan perekonomian di NTT. Angka pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen merupakan hal yang sangat baik. Hal ini akan terus kami tingkatkan," ungkapnya.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig @adjitropis)
Foto: dok.humas kemenpar

Captions:
1. Menpar Arief Yahya saat memberi sambutan di Rakornaspar III/2019.

Selasa, 10 September 2019

Intip Ragam Pesona Likupang

Sejak ditetapkan sebagai salah satu dari lima destinasi super prioritas, nama Likupang hangat dibicarakan hingga kian menjulang. Traveler pun banyak yang penasaran akan ragam pesonanya.

Likupang merupakan kecamatan di Kabupaten Minut, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang populer karena keindahan pasir putih dan warna lautnya yang biru kehijauan.

Menurut salah satu pengusaha travel agent di sana, turis asal China sangat senang berada di  Likupang karena selain banyak objek wisata, tempatnya juga sangat bagus.

Dari berbagai sumber, TravelPlus Indonesia mencatat ada sejumlah objek wisata di Likupang dan sekitarnya antara lain Pantai Likupang, Pantai Pal, dan Pantai Pulisan, serta sejumlah pulau seperti Pulau Lihaga, Komang, dan Pulau Gangga yang sangat menakjubkan keindahan bawah lautnya.

Pantai Likupang atau Likupang Beach di Jl. Likupang-Girian, Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Minut merupakan tempat wisata yang terkenal di Sulut.

Pantainya berpasir putih, ditambah perbukitan hijau dan taman laut. Di sana wisatawan bisa menyelam maupun snorkeling untuk menikmati keindahan kehidupan bawah lautnya.

Pantai yang terletak 48 km Timur laut Kota Manado ini ramai dikunjungi wisatawan domestik dan asing terlebih saat musim liburan.

Pantai Likupang dilengkapi beberapa hotel bintang dan resort yang terletak dekat dengan pantai. Ada juga restoran yang menyajikan berbagai makanan khas Sulut, makanan nusantara, dan barat.

Pantai Likupang dapat dicapai dengan mudah dari Kota Manado dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum dari Terminal 2 di Manado Paal.

Lain lagi dengan Pantai Pal yang berada di Desa Marinsow, Kecamatan Likupang Timur. Pantai ini juga sangat terkenal di kalangan orang Manado.

Saking terkenalnya, setiap akhir pekan pantai ini dikunjungi ratusan orang.

Untuk mencapainya dari Manado (arah Mapanget), bisa melewati jalur Jalan Bandara Samrat – Teterusan – Tatelu – Wasian – Lumpias. Sebelum Likupang, belok ke kanan, ambil arah Likupang – Girian.

Desa Marinsow terletak sekitar 20 km dari jembatan dekat pertigaan sebelum Likupang tersebut. Jalannya sudah mulus tapi cukup berkelok-kelok.

Sesampainya di pertigaan Desa Marinsow yang ada gereja dan Kantor PT Perkebunannya itu, ambil jalan yang ke kiri terus sampai di Pantai PAL.

Pantainya berpasir putih dan masih alami, ditambah dengan pepohonan rindang yang tumbuh di sekitar pantai.

Di sudut lain terdapat gugusan pegunungan yang berjajar rapi, menambah pesona menawan pantai ini.

Lain lagi dengan Pantai Pulisan di Desa Pulisan, Kecamatan Likupang Timur. Lokasinya kurang lebih 3,8 kilometer dari Pantai Pal, Airmadidi.

Di pantai ini menjadi tempat singgah bagi para Penyu saat musim bertelur.
Di sana wisatawan bisa menyewa perahu nelayan setempat (tarifnya masih bisa ditawar) untuk mengitari Tanjung Pulisan.

Pemandangannya berupa lansekap bukit hijau dengan beberapa titik pantai berpasir putih.

Di beberapa spot akan melihat sejumlah kapal penyelam bersandar. Kabarnya keindahan bawah lautnya tak kalah dengan Bunaken.

Bagaimana dengan pulau-pulau mungil di sekitarnya? Di laman Minutkab.go.id dijelaskan wisatawan yang ingin ke Pulau Lihaga di Kecamatan Likupang Barat bisa dari Pelabuhan Serei, Likupang dengan menyewa perahu motor sekitar 15 menit. Tarif perahunya masih bisa ditawar.

Di pulau kecil ini pantainya berpasir putih dan air lautnya  jernih. Selain berjemur di bawah sinar matahari dengan suasana tenang, wisatawan juga bisa snorkeling, soalnya pulau ini dikelilingi terumbu karang.

Pemandangan bawah lautnya juga tidak kalah cantiknya dengan Taman Laut Bunaken yang sudah tersohor.

Di pulau yang tidak berpenduduk ini sudah tersedia beberapa toilet dan ruang ganti untuk wisatawan serta bangunan dari kayu yang cukup besar untuk berteduh.

Begitupun dengan Pulau Gangga di Kecamatan Likupang Barat dengan Taman Lautnya.

Wisatawan bisa berjemur di pantai pasir putihnya yang halus, menyelam untuk melihat aneka spesies ikan dan biota lautnya, ber-Spa atau beristirahat di resort-nya berbentuk rumah kayu adat Minahasa.

Sementara di Pulau Komang yang berlokasi di Desa Kalinaun, Kecamatan Likupang Timur, juga sudah tersedia pendopo kayu, tangga beton lengkap dengan pagar pengaman.

Itulah ragam pesona Likupang dan pulau-pulau di sekitarnya yang kini berpredikat sebagai destinasi super prioritas.

Kelabihan lainnya, aksesnya  mudah dijangkau dengan perjalanan darat selama kurang lebih 2 - 2,5 jam dari Manado, Ibukota Sulut.

Tak berlebihan jika ada yang beranggapan ongkos ke destinasi wisata bahari satu ini dinilai jauh lebih murah ketimbang kalau ke Bunaken.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok.minutkab.go.id & adji

Captions:
1. Salah satu pesona bahari di Likupang, Minut, Sulut.
2. Ada banyak destinasi di Likupang.
3. Lokasi Likupang sekitar 2,5 jam dari Kota Manado lewat darat.

Ini Alasan Likupang Begitu Cepat Berstatus Destinasi Super Prioritas

Menteri Pariwisata Arief Yahya kembali menjelaskan kenapa Likupang begitu cepat naik kelas hingga berstatus sebagai salah satu dari lima destinasi super prioritas selain Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo.

"Lima destinasi super prioritas itu ditetapkan pada 15 Juli 2019 sore," kata Arief Yahya dalam jumpa pers Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata III di Swissotel Jakarta PIK Avenue, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Selasa (10/9/2019).

Empat destinasi super prioritas, lanjur Arief Yahya diambil dari daftar sepuluh Bali baru, yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo. Keempat lokasi tersebut dinilai berpotensi mendatangkan turis dengan jumlah mendekati capaian yang diperoleh Bali.

Sementara, Likupang dinilai layak masuk dalam daftar destinasi super prioritas meski awalnya dikategorikan sebagai destinasi unggulan. Hal itu itu dikarenakan pertumbuhan wisatawan mancanegara (wisman) di Sulawesi Utara naik hingga 500 persen.

"Likupang akan menjadi hub pengembangan wisata di daerah timur," ungkapnya.

Sebelumnya Arief Yahya juga pernah menyampaikan alasan kenapa Likupang yang merupakan kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dengan keindahan pasir putih dan biru lautnya ini cepat melesat statusnya, antara lain karena komitmen pimpinan daerahnya yang telah melakukan percepatan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Jadi faktor CEO Commitment atau keseriusan pimpinan daerahnya juga sangat berpengaruh,” tegas Arief Yahya.

Untuk mengetahui kecepatan dan mengukur komitmen pimpinan daerah yang memiliki destinasi prioritas maupun super prioritas, Arief Yahya mengaku menggunakan Transformer Project Managemen System yang dipantau setiap Minggu di War Room lantai 16, Gedung Sapta Pesona, kantor Kemenpar, Jakarta.

“Dengan digital saya bisa pantau capaian, kinerja, dan keseriusan masing-masing destinasi,” ungkapnya.

Kata Arief Yahya, pemerintah menyiapkan anggaran Rp7,2 triliun untuk kelima destinasi super prioritas tersebut yang posnya tersebar di sejumlah kementerian dan lembaga.

Rinciannya, alokasi untuk Danau Toba Rp2,520 triliun, Borobudur Rp1,511 triliun, Mandalika Rp1,747 triliun, Labuan Bajo Rp991,1 miliar, dan Likupang Rp499,8 miliar.  Alokasi anggaran itu berlaku untuk 2020.

Saat ini kelima destinasi super prioritas tersebut sedang dalam proses pengembangan intrastruktur yang ditargetkan selesai pada tahun 2020.

Rakornas Pariwisata III dihadiri oleh beberapa Kementerian/Lembaga terkait mulai dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Perhubungan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). 

Selain membahas pengintegrasian dukungan Kementerian/Lembaga dalam pengembangan destinasi pariwisata super prioritas dan bagaimana strategi pengembangannya, Rakornas yang berlabgsung 2 hari sampai 11 September 2019 ini juga akan membahas  program Quick Wins 2019 dan rencana pengembangan destinasi pariwisata super prioritas 2020.

Rakornas kali ini juga membahas mengenai dukungan aksesibilitas dan konektivitas serta Integrated Tourism Master Plan (ITMP) Danau Toba, Borobudur, dan Mandalika.
Didiskusikan pula perihal peningkatan daya saing SDM, masyarakat dan industri pariwisata yang hasilnya diharapkan berupa rencana aksi kegiatan dan penganggaran peningkatan kapasitas dan kompetensi SDM, pemberdayaan masyarakat dan peningkatan daya saing industri (SMI).

Tak ketinggalan pembahasan mengenai promosi atau pemasaran dengan penganggaran peningkatan promosi pariwisata dengan cara Branding, Advertising dan Selling (BAS).

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok.minutkab.go.id & adji

Captions:
1. Ragam pesona bahari di Likupang. (dok.minutkab.go.id)
2. Pembukaan Rakornas Pariwisata III 2019.
3. Bahas lima destinasi super prioritas.

Senin, 09 September 2019

Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia, Ajak Milenial Lebih Cintai Kawasan Konservasi

Guna mengajak masyarakat luas terutama generasi milenial baik di dalam dan luar negeri untuk mengenali dan mencintai lebih jauh Taman Nasional di Indonesia, empat penggiat alam Indonesia Medina Kamil, Chintya Tengens, Tyo Survival, dan Harley B. Sastha menggelar program bertajuk Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia. 

Program yang mendapat dukungan dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini bertujuan untuk menelisik dan mengenal lebih jauh soal Taman Nasional dengan cara eksplore yang berbeda.

Kepala Sub Direktorat Pengelolaan Wisata Alam, Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK), Julianti Siregar berharap lewat program jelajah Taman Nasional ini nilai budaya, edukasi konservasi, keanekaragaman hayati, dan konsep wisata yang bukan seperti biasanya jadi lebih dikenal oleh publik.

"Ujungnya masyarakat terutama generasi muda milenial mengenal dengan baik Taman Nasional tersebut dan menjaganya sebagai kekayaan Indonesia dengan berkunjung secara bijak," jelas Julianti saat grand launching Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia di Hike n Run, Alam Sutera, Sabtu (7/9).

Medina Kamil menjelaskan lewat program jelajah Taman Nasional ini, mereka ingin menginformasikan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan pengunjung di dalam Taman Nasional dan kawasan konservasi lainnya selain mengenal flora dan fauna asli dari Taman Nasional itu sendiri.

"Berkunjung di Taman Nasional  bukan hanya sekadar untuk foto-foto cantik. Tetapi lebih jauh agar bisa mengenal juga sosial budaya masyarakat sekitarnya," ujar Medina.

Tyo Survival menambahkan lewat program jelajah Taman Nasional ini mereka juga ingin mengajak masyarakat terutama kaum milenial untuk mengetahui lebih jauh lagi kehidupan dan cara hidup kearifan tradisional dari masyarakat asli yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional yang telah ada bahkan jauh sebelum Taman Nasional itu ada.

"Bagaimana mereka memanfaatkan apa yang ada di alam, tetapi tetap bisa menjaga kelestariannya," ungkap Tyo.

Sementara Harley B. Sastha menjelaskan suatu perjalanan yang dibekali dengan pengetahuan tidak akan mengurangi keseruan dari perjalanan itu sendiri. Tetapi sebaliknya, justru petualangan di Taman Nasional akan semakin  bertambah seru dan menarik.

"Semakin mendapatkan experience dari perjalanan itu. Pastinya semakin menumbuhkan rasa cinta terhadap alam itu sendiri. Dan kami juga ingin berbagi bahwa banyak hal-hal sederhana yang sebenarnya itu juga sudah menunjukkan perilaku atau sikap konservasi," ujar Harley.

Sedikit banyak apapun aktivitas yang dilakukan di alam, lanjut Harley, pasti akan berdampak terhadap alam itu. "Itu yang harus disadari. Dengan menyadarinya, kita akan lebih bijak dalam melakukan berbagai kegiatan di dalamnya. Meminimalisir dampaknya dengan mengetahui batasan-batasannya," tambahnya.

Chintya Tengens menerangkan dengan jelajah taman nasional ini, mereka ingin bersama-sama saling belajar dan berbagi pengalaman dengan masyarakat sekitar dan dengan teman-teman pengelola dalam hal ini polhut yang telah luar biasa menjaga kawasan konservasi.

"Itu bukan suatu pekerjaan yang sederhana. Menjaga kelestarian alam merupakan tanggung jawab kita bersama," ucap Chintya.

Grand launching Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia dihadiri 100 lebih peserta. "Ada seratus lebih pesertanya dari Jabodetabek, dan yang terjauh orang dari Kediri," ungkap Harley.

Kata Harley lagi, melalui Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia ini, mereka juga ingin membangun jaringan Sobat Taman Nasional. "Sebagaimana sahabat yang akan saling menjaga satu sama lain," pungkasnya.

Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia sendiri mulai direncanakan sekitar Juli 2017. Namun, baru mulai terlaksana Maret 2019 yaitu dimulai dengan menjelajahi Taman Nasional Gunung Ciremai dan Taman Nasional Gunung Merbabu.

Berikutnya, tim Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia akan bertolak ke Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, Gunung Halimun Salak, Baluran serta Taman Nasional Bukit TigaPuluh di Jambi dan Riau.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok.Tim Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia

Captions:
1. Tim Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia yaitu (dari kiri ke kanan) Tyo Survival, Medina Kamil, Chintya Tengens, dan Harley B. Sastha

Sabtu, 07 September 2019

Sejumlah Investor Berinvestasi Triliunan Rupiah di Danau Toba

Beberapa investor sudah ada yang tertarik menanamkan modalnya di sektor pariwisata di destinasi super prioritas Danau Toba di Sumatera Utara (Sumut). Nilai investasinya triliunan rupiah.

Hal itu diutarakan Direktur Badan Otorita Pelaksana (BOP) Danau Toba Arie Prasetyo dalam rapat koordinasi yang dihadiri oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dan Menteri Koordinator (Kemenko) Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan di Gedung Serba Guna Universitas Del, Desa Sitoluama, Kecamatan Laguboti, Toba Samosir, Jumat (6/9/2019).

"Sudah ada penandatanganan MoU untuk komitmen investasi di lahan Zona Otorita Danau Toba dengan total nilai rencana investasi dari 7 MoU tersebut mencapai sekitar Rp6,1 triliun," jelas Arie Prasetyo dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Arie, pihaknya kini sedang mempersiapkan dokumen perjanjian kerja sama dengan para investor tersebut yang rencananya akan dibahas bersama-sama pada pekan kedua September ini.

Menpar Arief Yahya menilai langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pembangunan pariwisata kawasan Danau Toba berjalan sesuai rencana. Terutama dalam menyambut penyelenggaraan groundbreaking glamorous camping atau glamping.

"Pada 10 Oktober 2019, pembangunan jalan sepanjang 1,9 kilometer dengan lebar 7 meter sudah selesai. Sementara penyediaan utilitas dasar lainnya seperti listrik dan air akan rampung pada 2020," jelas Arief Yahya.

Dalam rapat ini, Arief Yahya juga mengingatkan para Bupati untuk memasukkan destinasi wisata di daerahnya masing-masing ke dalam masterplan pembangunan destinasi pariwisata super prioritas Danau Toba.

"Nantinya akan ada 4 Key Tourism Area (KTA), karena itu jangan sampai ada objek wisata yang tidak terdaftar di masterplan," imbaunya.

Imbauan senada juga dilontarkan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. "Dalam masterplan yang ada akan dikombinasikan antara pembangunan infrastruktur dengan atraksi," tegas Luhut.

Arief Yahya menambahkan komitmen pemerintah dalam membangun pariwisata ini juga tercermin pada alokasi anggaran pembangunan yang mengalami kenaikan signifikan.

"Anggaran untuk pembangunan wisata di Danau Toba mencapai Rp2,2 triliun. Naik hingga hampir tiga kali lipat dari tahun 2019 yaitu Rp821 miliar," ungkapnya.

Inisiatif pengembangan Kawasan Danau Toba ini, lanjut Arief Yahya akan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut. "Rata-rata pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di sejumlah kabupaten sekitar Danau Toba adalah sebesar 79 persen akibat tumbuhnya sektor pariwisata," terangnya.

Branding yang ingin dibangun untuk Danau Toba sendiri adalah Supervolcano Geopark. Branding ini akan semakin kuat mengingat kawasan ini sudah secara de facto telah mendapat pengakuan UNESCO sebagai Global Geopark.

"Pada 4 September 2019, Danau Toba sudah mendapat predikat UNESCO Global Geopark (UGG). Hal ini menjadikan positioning untuk menjadikan Danau Toba destinasi wisata kelas dunia semakin kuat," pungkas Arief Yahya.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok.biro Kompol kemenpar

Selasa, 03 September 2019

Festival Kuliner KRAFT Bakal Suguhkan Ratusan Jenis Paduan Olahan Keju dan Kuliner Nusantara

Anda termasuk penggemar berat bermacam makanan olahan keju? Rasanya festival satu ini wajib Anda sambangi. Namanya Festival Kuliner KRAFT.

Keistimewaan festival yang akan berlangsung di Jl. Majapahit, Gasibu, Bandung, selama dua hari, 7-8 September 2019 ini, selain akan menyuguhkan ratusan jenis paduan olahan keju dan kuliner Nusantara juga bakal memecakan Rekor MURI untuk kategori ‘Sajian Terbanyak Berbahan Keju’.

Senior Brand Manager KRAFT Yelly Erawan menjelaskan Festival Kuliner KRAFT bisa dibilang istimewa karena menjadi festival kuliner pertama yang bakal menjadikan aneka perpaduan olahan keju dengan kuliner Nusantara sebagai konsep utama acara.

“Melalui festival ini kami berharap dapat memberi inspirasi bagi masyarakat untuk terus memperkaya kuliner Indonesia,” ujar Yelly Erawan dalam keterangan tertulisnya yang dikirim ke TravelPlus Indonesia, Selasa (2/9/2019).

Festival ini, sambung Yelly akan menghadirkan ratusan jenis jajanan keju dari para pedagang kuliner Indonesia mulai hidangan utama, kudapan sampai aneka jenis minuman.

"Di festival ini pengunjung dapat merasakan langsung bermacam sajian menggugah selera, perpaduan istimewa keju KRAFT dan kuliner Nusantara," tambahnya.

Menurut Yelly festival ini mengusung tema “Beragam Rasa Satu Keju” dengan maksud untuk menginspirasi masyarakat dalam memperkaya cita rasa khas kuliner Nusantara melalui perpaduan keju.

“Festival Kuliner KRAFT ini juga berfungsi sebagai bentuk apresiasi sekaligus wadah kreatif bagi para pedagang kuliner Indonesia untuk menyajikan ragam kreasi kuliner keju Nusantara,” jelas Yelly.

Apresiasi tersebut, lanjutnya, kemudian diwujudkan dalam bentuk kolaborasi antara KRAFT dengan para pedagang kuliner Indonesia, khususnya kelas kecil dan menengah untuk memecahkan Rekor MURI pada kategori ‘Sajian Terbanyak Berbahan Keju’.

“Pemecahan Rekor MURI ini diharapkan dapat menjadi semangat baru bagi semua pedagang kuliner Indonesia untuk terus berkreasi dan mengembangkan usahanya, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan perekonomian Indonesia,” ungkapnya.

Yelly menambahkan popularitas makanan olahan keju di Indonesia semakin meningkat, terlihat dari tren menu perpaduan keju yang kian marak. Bahkan, perpaduannya dengan olahan makanan atau minuman seakan menjadi tren kuliner yang tidak ada habisnya.

Menyadari hal tersebut, sebagai pemimpin pasar keju cheddar olahan di Indonesia sekaligus salah satu produk unggulan Mondelez Indonesia, Keju KRAFT ingin ikut berperan aktif dalam memperkaya cita rasa kuliner Indonesia yang kali ini diwujudkan melalui ragam kreasi kuliner perpaduan keju KRAFT dan kuliner Nusantara.

Chef Degan Septoadji menjelaskan keju merupakan makanan berbahan dasar susu yang sangat digemari di berbagai belahan dunia.

Meskipun bukan berasal dari Indonesia, ragam jenis panganan olahan keju kerap dianggap cocok dengan selera lidah orang Indonesia.

“Aplikasi keju dalam kuliner Nusantara dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, seperti dijadikan topping, isian, dilelehkan, ataupun dicampurkan ke dalam masakan atau adonan, baik untuk hidangan utama, kudapan, kue maupun minuman,” jelas Chef Degan.

Rasa keju yang sebenarnya adalah rasa gurih yang khas. Rasa tersebut merupakan hasil fermentasi susu yang diolah menjadi cheddar sebagai bahan baku utama dalam pembuatan keju.

Karakteristik rasa keju yang khas membuatnya mampu menambah cita rasa pada berbagai jenis makanan dan menjadikannya lebih istimewa.

Hal yang perlu diingat sebelum memadukan keju dan kuliner Nusantara yaitu memilih keju yang memiliki rasa yang sebenarnya, sehingga perpaduan rasa keju dan rasa asli bumbu rempah masakan khas Nusantara dapat berbaur dengan sempurna tanpa mengubah rasa aslinya.

“Keju KRAFT memiliki rasa gurih keju yang khas dengan perpaduan komposisi cheddar dan susu yang pas, menjadikannya memiliki rasa keju yang sebenarnya dengan tekstur lembutnya dan rasa gurih yang lebih terasa,” kata Chef Degan.

Paduan rasa yang lebih cocok untuk perpaduan keju, lanjut Chef Degan, adalah kombinasi rasa asin dan manis. "Hindari rasa yang pahit," imbaunya.

Jika ingin dikombinasikan dengan sayuran, Chef Degan menyarankan cari jenis sayuran yang memiliki rasa netral seperti brokoli, kembang kol, atau kentang. Sebaiknya tidak memakai sayuran yang pahit seperti pare, leunca, atau daun pepaya.

“Kalau mau yang lebih menantang, bisa juga keju dipadukan dengan makanan yang memiliki rasa kuat seperti rendang. Caranya rendang dipotong kecil-kecil lalu ditaburi keju,” tambah Chef Degan.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok.widi imogenpr